Archive for the Cerita Seru Category

Lily Panther 19: Tantangan

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Pengantar: Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca:”Selintas Kisah seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

Peristiwa ini terjadi ketika aku dengan 2 temanku, Yeni dan Ana, menemani 3 orang tamu. Yeni-lah yang mengajak aku dan Ana untuk menemaninya melayani ketiga tamunya, masing masing berpasangan.

Setelah ngobrol sejenak di kamar hotel, kami ber-enam dengan 2 taxi menuju Club Deluxe di bilangan Tunjungan, mereka ingin santai dulu sambil berkaraoke di Club itu.

Sebagian waitress dan mami ditempat itu sudah mengenali Yeni, apalagi aku yang sering sekali menemani tamu tamu bersantai disitu hingga Mami Mami disitu tak perlu repot mencarikan Purel untuk rombongan kami karena sudah cukup pasangannya.

Setelah memesan minuman yang kebanyakan ber-alkohol, kamipun bernyanyi dengan modal nekat meski suara pas pas-an, yang penting enjoy dan tamuku bisa rileks disitu.

Satu jam berlalu, snack dan minuman sudah berulang kali diganti dengan yang baru, entah berapa gelas alkohol yang telah mengisi rongga mulutku, aku tak bisa menghitungnya, kepalaku sudah mulai agak pusing. Untunglah Tomi, pasanganku, mencegah ketika aku pesan Singapore Sling, rupanya dia melihatku mulai agak mabok, sebagai gantinya dipesankan aku teh hangat.

Slow dance, House Music, ataupun joget dangdut bergantian kami lakukan, tidak hanya dengan Tomi tapi tak jarang berganti ke Yudi ataupun Indra, temannya yang lain. Tak bisa dihindari tangan merekapun dengan nakalnya ikutan menjamah pantat dan terkadang buah dadaku, aku tak protes karena Tomi, pasanganku, malakukan hal yang sama pada Yeni atau Ana.

Ketika lagu mandarinnya Andi Lau sedang dikumandangkan Indra dengan suara fals-nya, Yeni memanggil aku dan Ana ke Toilet di kamar itu, meninggalkan ketiga laki laki itu menyanyi sendiri.

“Rek (panggilan khas Surabaya), kita taruhan yuk” sambut Yeni ketika kami bertiga di toilet.

Aku yang sudah terbiasa dengan berjudi jadi tertarik.

“Taruhannya gimana dan hadiahnya apa?” tanyaku penuh minat.
“Kita lakukan dengan cara yang berbeda dari biasanya” sambung Yeni, kulihat matanya berbinar melihat aku dan Ana menyambut dengan antusias.
“Begini, kita lakukan oral pada pasangan kita masing masing, siapa yang bisa membuat orgasme pertama dialah yang menang dan yang terakhir harus membayar, nomer 2 nggak dapat apa apa..”
“Setuju, berapa taruhannya?” potong Ana langsung dengan penuh percaya diri.
“Sabar dulu non, nah disini asiknya permainan ini, yang terakhir membuat orgasme maka dia harus membayar uang bookingan pada tamu berikutnya, dimana yang mencarikan tamu itu adalah pemenang pertama” jelas Yeni.
“Jadi yang kalah harus menyerahkan hasil bookingan untuk tamu yang dicarikan pemenang?” tanya Ana seolah memperjelas.
“Yap, dan tidak boleh menolak tamu macam apapun, apa itu kaya, muda, tua pokoknya terima layani saja tamu yang dikirim pemenang, titik, setuju?” jelas Yeni lagi.
“Deal” tantang Ana.

Aku diam saja.

“Gimana Ly, berani nggak?” tanya Ana sambil menatapku.

Sebelum aku menjawab, pintu toilet dibuka, Indra masuk.

“Eh kalau arisan jangan di toilet dong, kami jadi batu nih sendirian” celetuk Indra, tanpa mempedulikan kami dia langsung membuka celananya dan kencing di kloset, kami terdiam.

“Jangan lama lama ya, ntar kami jadi patung lho” katanya sambil mencium bibir Yeni lalu keluar.
“Aku sih setuju aja, tapi usul boleh kan, supaya permainan lebih menarik dan menantang gimana kalau taruhan dinaikkan, yang kalah menyerahkan hasil bookingan sekarang ke pemenang pertama, dan juga menyerahkan uangnya pada bookingan berikutnya dari tamu yang dicarikan pemenang pertama dan kedua, jadi looser loss all” usulku penuh percaya diri karena yakin bisa mengalahkan mereka, aku sudah sering melihat permainan oral Yeni sedangkan Ana meski belum tahu kelihaiannya tapi rasanya tak mungkin kalah dengan Ana.

Yeni diam memandang Ana.

“Jangan terlalu besar gitu ah, kasihan yang kalah nanti, gimana kalau setengah saja untuk bookingan sekarang, anggap saja uang panjar” kata Ana.

Setelah melakukan beberapa perubahan akhirnya kami sepakat dengan beberapa perubahan aturan main, pemenang dengan menelan sperma mendapat hadiah penuh bila tidak hanya separoh yang didapat, apabila mau melayani tamu pilihan kedua pemenang sekaligus alias 2 in 1, maka cukup menyerahkan setengah perolehannya, sedangkan hasil bookingan kali ini diberikan setengah ke pemenang pertama, Pemenang Pertama dan Kedua diberi kesempatan untuk mencarikan tamu tidak lebih dari 3 hari atau hadiah hangus. Mungkin kami sudah sama sama mabuk hingga melakukan taruhan yang nggak umum ini, bertiga kembali ke ruangan karaoke ke pasangan kita masing masing, kupanggil waitres yang siaga di depan pintu kamar.

“Jangan sekali kali masuk sebelum kami panggil dan tolong redupkan lampu itu” bisikku sambil menyelipkan 50 ribuan ke kantong bajunya.

Kami minta ketiga laki laki itu duduk berjejer di sofa panjang, tanpa bicara, kami langsung jongkok di depan pasangan kami, mereka terlihat bingung tapi tentu saja senang dan gembira melihat kami mulai membuka celananya dan mengeluarkan penisnya.

Seperti dikomando, bersamaan kami memasukkan penis itu ke mulut, perlombaan telah dimulai. Aku yang hanya mengeluarkan penis Tomi dari lubang resliting rasanya kurang bebas, kubuka celananya dan kulorotkan hingga ke lutut.

Kujilati seluruh penis Tomi dari ujung hingga lubang anus, kedua kakinya kunaikkan ke atas hingga aku bebas menyapukan lidahku ke daerah sekitar selangkangannya, kudengar dengan jelas desah kenikmatan dari Tomi, diiringi desahan Indra dan Yudi.

Kukerahkan semua kemampuanku untuk memenangkan permainan ini, sesekali kulirik Yeni menuntun tangan Indra ke balik kaosnya, diremas remasnya buah dada Yeni. Sedangkan Ana aku yang di ujung tak bisa melihat trik-nya karena terhalang tubuh Yeni. Kepala kami bergantian turun naik di selangkangan para laki laki itu, berlomba menggapai tepian nafsu yang tak bertepi.

Beberapa menit berlalu, aku semakin penasaran karena Tomi ternyata “bandel” juga, antara mabuk dan nafsu membuatku semakin nekat, dengan maksud membuat Tomi cepat terangsang dan orgasme, kubuka kaosku hingga menampakkan kedua bra hijau satin transparan yang tak mampu menyembunyikan tonjolan buah dadaku dengan puting yang tampak menerawang meski lampu agak redup.

Tangan Tomi segera meraih dan meremas remas kedua buah dadaku, tapi tampaknya dia ingin lebih, dikeluarkannya buah dadaku dari sarangnya hingga menggantung bebas.

Ternyata aku membuat kesalahan fatal ketika melepas kaosku tadi, Indra yang duduk di sebelah Tomi justru lebih sering melototiku, pada mulanya aku senang saja mendapat perhatian darinya meski dia sedang memperoleh kuluman Yeni, malahan perhatiannya lebih tercurah kepadaku saat Tomi mengeluarkan buah dadaku, padahal Yeni sudah mengikutiku melepas kaosnya.

Tiba tiba kudengar teriakan orgasme dari Indra, teriakan seperti itu biasanya terdengar begitu penuh menggairahkan, tapi kali ini terdengar sangat menyeramkan bagai petir di siang hari bolong. Aku sangat kaget, hampir tak kupercaya bahwa dia yang menurutku permainannya biasa biasa saja, tidak istimewa.

Aku dan Ana menghentikan kuluman sejenak untuk melihat apakah dia menelannya atau tidak, dan kembali aku terkaget saat Yeni menelan dan menjilati sperma yang ada di mulut dan tangannya itu seperti menjilat ice cream, tak biasanya dia melakukan itu. Sungguh dengan telak dia mengalahkan aku pada situasi yang seharusnya aku menangkan.

“Oke nona nona manis, aku sudah selesai” katanya seraya berdiri menuntun pasangannya ke toilet, sepertinya melanjutkan permainan, namun dia sempat menerangkan lampu kamar, biar permainan lebih seru, katanya.

Kini tinggal aku dan Ana yang masih berjongkok dalam terangnya lampu kamar karaoke. Kamipun kembali berlomba memacu nafsu menuju garis tepi. Sudah kepalang tanggung, aku nggak mau menjadi pecundang, kulepas bra yang menutupi dadaku, supaya Tomi lebih bergairah, kurasakan penisnya semakin menegang dalam mulutku, akupun semakin liar mengulumnya, bahkan bertambah nekat, celanaku-pun akhirnya melayang dari tubuhku, menyisakan celana dalam mini string yang masih menempel.

Sempat kulihat mata Yudi melotot melihat tubuhku yang hampir telanjang, desahan Tomi semakin keras seakan mengimbangi alunan musik dari karaoke box yang masih terus bernyanyi tanpa ada yang memperhatikan.

“Wow, semakin panas nih permainan” komentar Yeni ketika keluar dari toilet, aku tak memperhatikan lagi karena sedang memacu nafsu Tomi menuju puncak.
“Aku akan jadi jurinya” lanjut Yeni sambil duduk di pangkuan Indra di sofa seberang.

Sambil menyusurkan lidahku di selangkangan Tomi, kulirik Ana yang tengah asik mengulum penis Yudi, pandanganku bertatapan dengan Yudi yang tengah mengamati tubuh terutama buah dadaku nan tengah dalam remasan pasanganku. Kembali kepala kami mengangguk angguk diselangkangan pasangan masing masing, memacu nafsu menuju tepian birahi.

Namun untuk kedua kalinya aku dikagetkan teriakan orgasme yang serasa menggelagar bagaikan suara guntur di siang hari, merontokkan segala kebanggaan yang selama ini kumiliki. Teriakan itu sepertinya sangat menyeramkan, baru kali ini aku begitu membenci teriakan orgasme dari laki laki, terutama dari Yudi, lemaslah lututku seketika.

Kini kulihat Ana tengah menjilati sperma yang ada di bibir dan sekitar wajahnya sambil tersenyum penuh kemenangan memandangku, pandangan itu terlihat begitu penuh cemooh kemenangan, aku benar benar merasa bagaikan seorang pecundang dihadapan Ana dan Yeni.

Meski sambil memendam kekesalan karena kalah, aku tetap melanjutkan kulumanku pada Tomi hanya untuk menyenangkan hatinya, namun hingga beberapa menit kemudian, tak terlihat ada tanda tanda menuju puncak, akhirnya aku menyerah dan menghentikan kulumanku, untungnya dia nggak marah.

“Nggak apa, kita lanjutkan nanti di hotel” katanya sembari mencium bibirku.

Dengan agak keras karena kesal, kuhempaskan tubuh hampir telanjang ke sofa diantara Yudi dan Tomi, aku benar benar kecewa dengan penampilanku sendiri, sungguh kusesali kekalahan dari Yeni dan Ana, bukan uang yang kupikirkan tapi lebih pada kebanggaan bahwa aku kalah dengan mereka pada situasi yang tidak kuharapkan.

Baca lebih lanjut

Lily Panther 18: Berbagi Pelangi

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Cerita ini lanjutan dari: Lily Panther: Bachelor Party/Dibatas Pelangi

*****

Aku kembali ke ruang keluarga untuk pamit dan minta dipanggilkan taxi atau ikut salah satu dari mereka saat pulang nanti, karena jarang sekali taxi yang lewat daerah ini.

“Ly, kami sepakat lanjut, gimana?” tanya salah seorang dari mereka
“Aku sih terserah saja, tapi sama siapa?” tanyaku, mereka saling berpandangan seakan tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dan tak ada yang mengalah untuk memberikan kesempatan ini pada temannya.
Setelah berunding beberapa lama, akhirnya aku usulkan untuk diadakan lelang, dijadiken obyek pelelangan aku sih oke saja. Penawar tertinggi akan mendapatkan tubuhku, diluar urusan pembayaran dengan GM, jadi yang dilelang adalah tips yang akan aku terima.

Serempak mereka menulis angka angka di kertas tisu dan menyerahkan padaku sebagai juri. Satu persatu kubuka, kuumumkan nama dan jumlah yang ditulis, ternyata angka tertinggi ada 2 orang, masing masing menulis 2,5 juta, yaitu Robi dan David. Aku tak tahu bagaimana harus menentukan pemenang, bagiku bukan orangnya yang harus kupilih tapi angkanya, toh melayani siapa saja sudah biasa bagiku.
Apakah diundi pakai coin atau suit atau lelang lanjutan, aku benar benar nggak tahu, tapi aku tahu ada potensi untuk mendapatkan angka yang lebih besar dari yang tertulis namun dengan cara yang lebih halus dan tidak terlihat terlalu mata duitan.

Kuminta Robi dan David mendekatiku.
“Sorry lainnya, sebagai juri aku harus menentukan siapa pemenangnya,” kataku pada yang lain
Begitu mereka mendekat, kupeluk mereka berdua dan kuremas selangkangannya seakan menguji seberapa besar yang mereka punya, ini hanyalah untuk mengalihkan perhatian yang lain dan juga untuk membuat kedua orang ini terhanyut dalam skenarioku.

Baca lebih lanjut

Lily Panther 17: Bachelor Party

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Pengantar: Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.
Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca: “Selintas Kisah seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

Di Batas Pelangi

Ketika aku memasuki halaman rumah itu, banyak mobil mewah sudah diparkir memenuhi area yang ada, seorang satpam mendekat.
“Kucarikan parkir Bos, langsung aja sudah ditungguin di dalam,” katanya pada GM yang mendampingiku.

Kulihat rumah itu begitu besar, seperti layaknya rumah di kawasan elit Galaxy, lebih tepat disebut istana barangkali, mungkin bisa dibandingkan besarnya dengan rumah di kawasan Pondok Indah.

Seorang anak muda chinese, namanya Indra menyambut kedatangan kami.
“Langsung masuk aja, mereka sudah nunggu” sambutnya

Baca lebih lanjut

Lily Panther 16: I Love This Game

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Pengantar

Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “Menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca: “Selintas Kisah Seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

Sore itu Kuketuk pintu kamar 812 Hotel Shangri La, Edward membuka pintu dengan senyum ramah dan mempersilakanku masuk.

“Udah lama nunggu?” tanyaku basa basi.

“Ah enggak, barusan aja mandi”.

Edward adalah seorang chinese tamu langgananku, entah sudah berapa kali aku melayaninya, hampir tak terhitung, kutemani dia setiap kali datang ke Surabaya. Sebenarnya tak ada yang istimewa darinya kecuali pembawaannya yang santai dan cenderung lucu, aku menyukai pembawaannya itu, di usianya pertengahan 30-an, dia seorang bisnisman sukses, kalau nggak salah dia mensuply suku cadang ke Pertamina. Seringkali aku diminta melayani client-nya yang dari pertamina, tentu saja setelah puas dia menikmati hangatnya tubuhku.

“Kamu itu bawa rejeki, setiap kali kukasih kamu pasti proyeknya gol” ujarnya suatu hari ketika kucoba menawarkan gadis lain saat aku “Fully booked”.

Hampir jadi kebiasaan setelah menikmatiku semalaman, besoknya aku diberikan ke rekanannya untuk servis, bahkan ketika harus men-servis dua atau tiga tamu, aku dan gadis lain ditidurinya dulu bersamaan, tentu saja tanpa setahu mereka. Bagiku sendiri nggak masalah dengan siapa aku harus tidur, yang penting negosiasinya jelas dan menguntungkan.

Baca lebih lanjut

Lily Panther 15: Liveshow

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Pengantar: Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “Menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca: “Lily Panther 01: Selintas Kisah seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

“Ly, nanti sore jam 4 di Hotel Westin, bisa nggak?” tanya seorang GM wanita via HP pada suatu hari.
“Kalau untuk cicikku yang satu ini pasti bisa dong” balasku manja karena aku tahu GM wanita yang satu ini, biasa kupanggil cicik karena selain yang aku tahu dia seorang chinese yang banyak kenalan kalangan atas, aku tak tahu nama aslinya.
Seperti biasanya dia pasti memberi orderan gede, bukan kelas kakap bahkan tak jarang kelas paus.
“Tapi kali ini agak lain, terserah kamu mau nggak, biasanya kan kamu nggak suka yang aneh aneh” tanyanya ragu.
“Emang kenapa cik?” tanyaku penasaran.
“Emm.. dia cuman ingin lihat kamu main sama laki lain, kalo kamu nggak mau nggak apa sih” jelasnya, aku tercenung sejenak.

Ini adalah hal baru bagiku, belum pernah aku di booking untuk hanya ditonton live seperti ini, apa asiknya melihat orang bercinta padahal dia bisa menikmatinya secara langsung pemain wanitanya. Atau jangan jangan orang itu hanya timbul gairahnya saat melihat orang bercinta lalu baru menikmati tubuhku, sejuta pikiran berkecamuk penuh tanda tanya.
“Ly? gimana?” tanya cicik mengagetkanku.
“Laki laki lainnya siapa? teman dia?” Tanyaku makin penasaran
“Nggak sih, dia nyerahin ke aku, tapi terserah kamu kalo kamu punya pilihan atau pacarmu barangkali kalo kamu mau, lumayankan udah dapat enak dapat duit lagi.. ha.. ha.. ha” godanya.
“Gila apa, masak pacar dilibatkan urusan beginian, saru” jawabku sambil membalas candaannya.
“Ya udah pilih siapa yang kamu kenal” desaknya.

Baca lebih lanjut

Lily Panther 14: Widya

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Pengantar: Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “Menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca: “Lily Panther 01: Selintas Kisah seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

Selama menjalani profesi sebagai seorang Call Girl, banyak pengalaman yang selama ini tak pernah kubayangkan atau hanya bisa kulihat di film porno, tapi kini aku mengalami keunikan demi keunikan atas fantasi manusia, tiada beda antara laki dan perempuan.

Siang itu mobilku sudah meluncur menuju Palm Inn di kawasan Mayjen Sungkono, tempat yang memang strategis untuk sekedar SAL atau selingkuh lainnya.
“Ly, ketemu yuk, kita kan udah lama nih nggak ketemu, kangen deh, ntar siang oke?” begitu sapaan hangat dari Pak Edi, seorang Manager disebuah perusahaan Export Import yang berkantor di Wisma BII, paling tidak sebulan sekali mem-bookingku. Usianya relatif masih muda, hampir 40 tahun menurut perkiraanku.
“Mas Edi mesti begitu, senangnya buru buru, ini kan udah jam 11 lewat berarti sekarang dong” jawabku manja.
“Iya aku lagi judeg nih, dan lagi mumpung ada temannya” katanya
“Tumben kok bawa teman, perlu dicariin cewek lain nggak? atau udah punya sendiri” tanyaku heran, nggak biasanya dia selingkuh rame rame.
“Nggak usah kali ini spesial, dia sekretaris di kantor sebelah, kebetulan suaminya keluar kota” jelasnya, aku jadi mengerti, ternyata dia menginginkan permainan dengan 2 wanita.
“Lho udah ada gitu kok masih cari aku lagi” godaku pura pura nggak ngerti.
“Udahlah pokoknya mau apa nggak?” tegasnya
“Asal aku tidak ikutan melayani teman wanitamu itu sih, ya.. ya.. yaa” jawabku menirukan iklan kondom, kebanyakan tamuku tahu kalau aku sangat membenci dan selalu menolak permainan lesbian.

Baca lebih lanjut

Lily Panther 13: Berbagi Ceria di Mana Saja

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Synopsis:

Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “Menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca: “Kisah seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

Tanggapan:

Banyak email tanggapan yang masuk atas cerita ceritaku, perlu aku tegaskan sekali lagi, meskipun sudah kuutarakan di seri awal ceritaku, bahwa cerita itu adalah 90% NYATA, sisanya adalah bumbu penyedap supaya cerita itu lebih menarik.

Sekalian aku mohon maaf apabila banyak email yang tidak terjawab saking banyaknya email masuk, bukannya sombong tapi dari pada menjawab email yang terkadang tidak tahu alur cerita awal dan mengajak ketemu atau kencan, lebih baik waktu dan tenaga kugunakan untuk membuat cerita lainnya.

Untuk tawaran penerbitan secara komersial, terus terang saat ini aku masih belum tertarik untuk meng-komersial-kan cerita ini, anyway thanks atas tawarannya.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.