Archive for the Cerita Seru Category

Lily Panther 12: Piala Bergilir

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Pengantar: Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca:”Kisah Seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

Dengan naik taksi aku menuju ke Club Deluxe, seorang GM telah menunggu di depan lobby saat taxiku berhenti.
“Cepat mereka udah lama menunggu” sapanya sambil menggandengku menuju salah satu ruangan VIP.
Ada 5 orang berada di dalam, anehnya tidak ada seorangpu Purel yang menemani mereka.
“Ini dia bidadari kita” celetuk salah seorang dari mereka saat melihatku memasuki ruangan
“Wow sayang sekali aku tak bisa ikutan” sahut lainnya
“Aku setuju” teriak lainnya tanpa aku tahu apa maksudnya
“Setujuu” yang lain mengekor seperti suara di gedung DPR.
“Oke semua telah setuju jadi kamu bisa tinggal dan temani mereka” kata si GM, aku masih tak tahu maksudnya, jadi kuturuti saja seperti kerbau dicocok hidungnya.

Satu persatu aku diperkenalkan, tentu saja tak semua nama bisa kuingat satu persatu tapi untuk saat ini apalah arti sebuah nama, toh aku belum tahu apa maunya mereka. GM itu hanya memberitahu bahwa aku di-booking selama 3 malam, mulai kamis-Sabtu, hanya malam sampai pagi ditambah Minggu siang-sore, akan ada permainan, hanya itulah pesannya, justru itu yang membuat aku penasaran. Mereka saling berceloteh, saling mengolok temannya.

Beberapa lagu telah mereka lantunkan dengan suara yang tak terlalu sedap didengar telinga, satu demi satu mereka mengajakku dance, bergiliran kulayani mereka melantai diiringi lagu slow yang tak karuan iramanya. Bisa ditebak bagaimana mereka melantai denganku, semua hampir sama kelakuannya, memelukku erat sehingga buah dadaku menempel di tubuhnya, mencium pipi dan leherku, meremas pantatku dan sebagainya, semua kulayani dengan senyuman manja karena aku masih tidak tahu siapa yang akan meniduri dan menikmati tubuhku kelak, jadi semua kuperlakukan sama.

Baca lebih lanjut

Lily Panther 11: Jakarta Oh Jakarta

Posted in Karya Lily Panther on 7 Maret, 2008 by elilagi

Pengantar: Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca: “Kisah seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

Di Cengkareng seseorang sudah menunggu kedatanganku dan kami langsung meluncur menuju Hotel Regent yang letaknya aku sendiri tak tahu dimana, yang jelas di Jakarta. Ini adalah pertama kali aku mendapat bookingan untuk terbang melayani tamu di Jakarta, bagiku tamunya sih tidaklah luar biasa meskipun tergolong VIP, sudah biasa kulakukan, tapi yang agak beda adalah aku yang terbang menemui dia.

“Tolong layani dia dengan baik, dia seorang pejabat tinggi di negeri ini” begitu pesan penjemputku yang merupakan orang suruhan GM yang mengatur perjalanan dan booking-anku.
Sesampai di hotel kami langsung menuju ke kamar yang sudah dipersiapkan, ditinggalnya aku sendirian menunggu tamuku yang katanya pejabat tinggi itu, dia menunggu beliau di lobby. Jarum jam menunjuk ke angka 11:30, mungkin nanti baru jam 12.00 tamuku akan datang, berarti ada waktu setengah jam untuk menyegarkan diri di bathtub.
Sebelum aku beranjak menuju kamar mandi, terdengar telepon berdering, segera kuangkat.
“Halo, Selamat Siang, ini Lily?” Tanya suara dengan nada berat.
“Siang, betul saya sendiri, ini siapa?” tanyaku balik, padahal hanya GM dan tamuku saja yang tahu keberadaanku.
“Bapak sebentar lagi nyampe, mungkin 15 menit lagi, kamu santai aja dulu menunggu beliau”
“Siap Boss ” jawabku santai, kubatalkan acara ke kamar mandi.

Sambil menunggu kedatangan beliau, kurapikan make up yang agak berantakan selama perjalanan di pesawat.
Ternyata tak sampai 15 menit bel kamar berbunyi, segera kusambut kedatangan beliau yang katanya pejabat tinggi itu. Didampingi seorang ajudan dan orang yang menjemputku tadi, masuklah bapak pejabat itu, segera kukenali bahwa dia adalah seorang Menteri yang masih aktif pada sebuah departemen yang cukup disegani, namanya sebut saja Pak Usman.
“Bapak tidak punya waktu, temani dia dengan baik, oke” pesan yang sama kuterima lagi,
“Beres Boss” jawabku singkat, karena dia bukanlah pejabat tinggi yang pertama kali kulayani, jadi tak ada rasa canggung atau minder berhadapan dengan beliau.
“Pak kita di lobby, kalau ada apa apa just call me” katanya pada Pak Usman lalu mereka meninggalkanku berdua.
Aku maklum, sebagai seorang Menteri tentu acaranya sangat padat tapi masih sempat juga dia meluangkan waktu untuk kesenangan dunia yang satu ini.

Baca lebih lanjut

Lily Panther 10: Mutiara Hitam

Posted in Karya Lily Panther on 6 Maret, 2008 by elilagi

Pengantar: Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca: “Kisah seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

*****

Kupacu Pantherku menuju Hotel Westin (sekarang JW Marriot) di kawasan Basuki Rachmat, setelah parkir aku langsung menuju ke kamar yang dimaksud oleh GM yang meng-order-ku. Malam itu sebenarnya aku agak segan untuk terima tamu, tapi si GM berhasil mengiming-imingiku dengan imbalan yang jauh diatas biasanya, tentu ini membuatku untuk berpikir lagi sebelum akhirnya kuputuskan menerima bookingan itu. Tamuku kali ini seorang pejabat tinggi dari Indonesia Timur, sebut saja namanya Thomas (samaran), aku tahu dia karena sering muncul di media massa, inilah salah satu yang membuatku agak segan menerimanya, bukannya diskriminatif tapi dengan penampilannya yang hitam legam tentu membuatku kurang begitu menikmati permainan, apalagi aku belum pernah melayani orang tipikal macam dia dan sepertinya tidak tertarik untuk mencobanya, tapi kembali lagi aku harus tunduk pada kekuasaan uang.

Dari balik pintu kamar suite muncullah wajah yang sudah cukup kukenal meskipun dia tidak sehitam yang aku bayangkan tapi tetap saja menimbulkan perasaan seram dari penampilannya.
“Malam Pak”, tanyaku ragu.
“Lily ya? Masuk, masuk, santai saja”, dia mempersilakanku dengan sopan.

Kamar suite itu terlihat luas dan lapang, sofa set untuk tamu dilengkapi dengan meja kerja terpisah dan meja makan yang menghadap ke jendela, ranjang yang besar masih terlihat rapi, sepertinya beliau baru datang, terlihat dari barang bawaannya yang masih rapi belum semuanya dibongkar.
“Makan dulu ya, saya tadi udah pesan kok”, sungguh sopan bertolak belakang dengan wajah angkernya.
“Sambil nunggu makan, saya mandi dulu ya, capek baru datang, nanti kalau Room Servicenya datang terima saja”, lanjutnya lalu masuk ke kamar mandi.
Tidak seperti biasanya kutawarkan diri untuk mandi bersama, kali ini entah ada perasaan yang menahanku untuk menawarinya mandi bersama, dan kebetulan beliau juga tidak mengajakku. Tak lama setelah beliau di kamar mandi, Room Service datang, cukup banyak juga pesanannya, rupanya beliau sudah mempersiapkan dengan baik.

Dua puluh menit beliau di kamar mandi dan keluar dalam keadaan segar, mengenakan piyama, aroma parfumnya terasa menyengat namun lembut, dalam keadaan normal sebenarnya sudah bisa membangkitkan birahi tapi kali ini berbeda. Sebelum makan Pak Thomas memintaku untuk berganti pakaian, biar lebih santai, katanya. Kuturuti permintaannya, kuambil piyama di lemari, di kamar mandi kulepas semua pakaianku kecuali pakaian dalam dan kukenakan piyama. Kamipun makan malam dengan sama sama mengenakan piyama, suasana begitu santai, apalagi pembawaan Pak Thomas yang ramah dan senang cerita, kami menjadi lebih akrab, perlahan menghilang kekakuan suasana yang kualami.

Makan malam sudah lama berlalu, tapi kami masih di meja makan mendengarkan beliau bercerita, terutama aku tertarik tentang kondisi di Papua (waktu itu masih bernama Irian Jaya), aku tertarik dengan kehidupan social dan alamnya. Malam merangkak kian larut, kutemani dia nonton TV, sesekali HP dia berbunyi, dari staff-nya yang mengatur meeting besok pagi. Sambil nonton TV kami duduk bersebelahan, diraihnya tubuhku dalam pelukannya, aroma parfumnya membuatku mulai naik, dibelainya rambutku.

“Tidur yuk”, ajaknya ketika acara berita di TV berakhir, beliau menggandengku ke ranjang yang besar dan empuk.
Kurebahkan tubuhku di ranjang yang hangat itu, Pak Thomas mulai menciumku sesaat setelah aku telentang, diciumi kedua pipi dan keningku. Mataku kupejamkan rapat rapat melihat wajah seramnya mendekati mukaku, meski sudah banyak laki laki yang menciumiku dengan berbagai wajah dan penampilan, selama ini aku menganggap wajah Koh Wi yang paling seram, tapi Pak Thomas jauh lebih menyeramkan, apalagi dengan kulitnya yang hitam. Bibir tebalnya mulai mencium dan melumat bibirku, rasa muak sempat menyelimutiku, tapi aku tersadar bahwa inilah salah satu resiko yang harus kuhadapi. Masih tetap memejamkan mata, ragu ragu kubalas lumatan bibir dan lidahnya, beliau semakin bergairah menyapukan lidah ke bibirku dan melumatnya dengan bibir tebalnya. Terasa aneh saat aku membalas lumatannya, bibirnya terasa begitu lain dengan kebanyakan tamuku sebelumnya, tapi kutekan perasaan yang timbul, kewajibankulah untuk memuaskan beliau.

Tangan Pak Thomas sudah menjelajah ke sekujur dadaku, diremasnya dengan halus, diselipkannya dibalik piyama lalu menyelinap masuk dibalik bra. Kulit tangannya terasa kasar meremas remas buah dadaku sambil mempermainkan putingnya, tangan satunya mulai membuka ikatan piyama dan membukanya, tampaklah pasangan bikini hitam berenda merah yang menutupi bagian erotis tubuhku, sesaat Pak Thomas menghentikan ciumannya, mengamati tubuhku, tersenyum lalu kembali melumat bibirku lebih bergairah. Bibir dan lidahnya beranjak menyusuri leher putihku, mataku masih terpejam meskipun kegelian mulai menghinggapiku, kuremas remas rambut keritingnya ketika kepalanya sampai di dadaku, dijilatinya sekujur dadaku, tanpa melepas bra beliau mengeluarkan kedua buah dadaku dari sarangnya. Dipandanginya sejenak sebelum bibir tebalnyanya mendarat di puncak bukit di dadaku.

Aku menggeliat tanpa sadar saat bibir tebal itu menyentuh putingku, terasa aneh dengan kulumannya tapi makin lama makin enak, membuatku mulai mendesis dalam nikmat, apalagi diselingi remasan pada putingku satunya, bergantian beliau mengulum dari satu puting ke satunya sambil meremas remas lembut, desahanku makin lepas keluar. Meskipun aku sudah kepanasan, mendesah, tapi aku masih belum mampu menatap wajah yang telah membuaiku, takut gairahku drop begitu melihat wajahnya, tangankupun hanya sebatas meremas rambutnya, masih ada keraguan untuk menggerakkan tanganku ke selangkangan Pak Thomas, meskipun aku sangat yakin dia sudah menegang.

Pak Thomas melanjutkan penjelajahannya, disusurinya perutku dengan bibirnya dan berhenti di selangkangan, kubuka lebar kakiku, beliau menarik turun celana dalam penutup selangkangan. Tanpa membuang waktu, lidahnya langsung menari nari pada klitoris, aku menjerit tertahan merasakan kenikmatan jilatannya yang tak terduga. Mataku masih terpejam menikmati permainannya, kuremas remas rambut ikal yang ada di selangkanganku, lidah dan bibirnya begitu bebas bergerak liar di vagina, membuatku makin melambung seiring desahanku yang makin keras. Sembari mempermainkan vaginaku, tangannya mengelus paha dan meremas remas buah dadaku, remasannya sudah mulai keras dan kasar, meskipun begitu tidak mengurangi kenikmatanku.

Pak Thomas merubah posisinya, kurasakan tangannya menuntun tanganku ke selangkanannya, kurasakan penisnya tegang mengeras, dengan masih ragu ragu kupegang dan kuremas pelan. Terkaget aku merasakan kekerasan dan serasa aneh menggenggamnya, karena penasaran terpaksa kubuka mataku untuk melihatnya. Kini baru kusadari kalau Pak Thomas sudah telanjang, mataku menatap tajam ke selangkangannya, ternyata penis dalam genggamanku sungguh lain dari kebanyakan, disamping panjang, bentuknya melengkung ke atas seperti busur panah, aku menebak pasti ini akibat koteka waktu mudanya. Mataku kembali terpejam saat kurasakan jilatan di vaginaku makin menghebat, kali ini tanpa ragu tanganku mengocok kejantanannya, rasanya tak sabar untuk merasakan penis itu didalam vaginaku.

Beberapa menit kemudian, tubuh Pak Thomas sudah berlutut diantara kakiku, ingin segera kulesakkan masuk tapi beliau justru mempermainkan dengan mengusap usapkan penisnya ke paha dan bibir vaginaku. Kakiku sudah terpentang lebar, pinggulku turun naik merasakan kegelian di luar vagina, dan ketika sedikit demi sedikit kejantanan Pak Thomas memasuki liang kenikmatanku, aku mulai menjerit, oohh betapa nikmatnya penis itu, makin dalam makin nikmat, dan aku benar benar berteriak kenikmatan saat beliau mulai mengocokku, luar biasa nikmatnya, tak pernah kurasakan kenikmatan seperti ini. Aku berharap Pak Thomas bisa bertahan lama, kocokannya makin cepat, begitu pula desah napasku semakin menderu berpacu dengan desis dan jerit kenikmatan.

Aku tak bisa menahan kenikmatan ini lebih lama lagi dengan hanya memejamkan mata, terpaksa kubuka mataku, kulihat expresi nikmat dari wajah Pak Thomas yang hitam menyeramkan, namun kali ini justru terlihat begitu sexy dengan beberapa butiran keringat di wajahnya. Maka ketika tubuhnya ditelungkupkan di atas dadaku, akupun tak segan untuk memeluk dan melumat bibir tebalnya, semuanya telah berubah dari beberapa menit yang lalu, sejak kurasakan nikmatnya kejantanan beliau.

Kami mengayuh perahu birahi makin ke tengah samudra nafsu, keringatnya mengalir deras membasahi dada dan bra-ku yang belum juga terlepas. Tubuhku yang putih mulus semakin erat dalam dekapan tubuh hitamnya, dipeluknya aku dengan erat sembari pantatnya turun naik di atasku, kocokannya semakin cepat, membawaku lebih cepat menuju puncak birahi.
Jepitan kakiku pada pinggulnya membuat kejantanannya semakin dalam mengisi liang kenikmatanku, meski tidak terlalu besar tapi dengan bentuk aneh dan panjang yang di atas rata rata, aku serasa terlempar dari realitas dan membumbung tinggi.

Pertahananku ternyata tak bisa membendung kenikmatan yang diberikan Pak Thomas, tak lama setelah kujepitkan kakiku, meledaklah jerit kenikmatanku, orgasme pertama yang kuraih dari beliau, kucengkeram erat kepalanya yang menempel di leherku sambil menjerit liar, ternyata justru membuat Pak Thomas mempercepat kocokannya. Hampir saja pertahanan keduaku jebol lagi tak lama kemudian kalau saja beliau tidak menghentikan kocokannya dan berganti posisi, hal ini memberiku sedikit waktu untuk menurunkan tegangan birahiku.

Pak Thomas menolak ketika kuminta doggie, justru beliau telentang dan memintaku di atas, sebenarnya ini adalah posisi favorit karena aku bisa pegang kendali, tapi dengan kejantanan beliau yang memabukkan itu, aku ragu apakah bisa mengendalikan permainan ini. Kupegang, kuremas dan kukocok kocok dengan tanganku, baru sekarang aku bisa mengamati “keindahan”, mutiara hitam ini, begitu keras dan hitam seperti kayu ebony yang sudah tua, kokoh dan berdiri anggun, ingin rasanya melumat habis. Kuatur posisi tubuhku di atasnya, perlahan kuturunkan pantatnku, aku ingin menikmati mili demi mili kejantanannya menguak liang kenikmatanku, semakin dalam semakin nikmat hingga terbenam semua. Pak Thomas memandangku seolah menikmati expresi nikmat yang kurasakan sembari tangannya menggerayangi kedua buah dadaku, beliau mencegah ketika kubuka bra-ku, sepertinya beliau menikmati erotisme yang terjadi. Tubuhku mulai turun naik, pelan tapi semakin cepat diiringi desahan dan jeritan nikmat dari kami berdua, kutatap mata beliau yang tak pernah lepas pandangannya dari wajah dan dadaku, aku juga menikmati expresi kepuasan di wajahnya.

Gerakanku turun naik dan bergoyang bergantian di atasnya, entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme dengan posisi seperti ini. Ditariknya tubuhku dalam pelukannya, kami saling mengadu bibir dan lidah, hilang sudah rasa enggan, beralih dengan perasaan yang begitu exotis, membuatku makin bergairah dalam pelukan dan kocokannya.
Aku teriak histeris ketika kurasakan tubuh Pak Thomas menegang dan menyemprotkan spermanya dengan kencang di vaginaku, denyutan demi denyutan menghantam dinding dinding vaginaku hingga kurasakan cairan hangat yang memenuhi lorong lorong sempit kenikmatan, seiring dengan jeritan beliau sambil memelukku makin rapat. Napas kami menderu saling berpacu, beberapa saat saling berpelukan lemas dalam keheningan, hanya degup jantung yang saling bersahutan terdengar begitu keras. Kusandarkan kepalaku di bahunya, beliau membelaiku penuh kemesraan, penisnya masih kurasakan tegang mengisi vaginaku.

“Kamu tidur disini saja ya”, bisiknya lembut ditelingaku.
“Terserah Bapak saja, kalau memang nggak ngganggu istirahat Bapak”, jawabku sopan.
“Justru kalau nggak ada kamu aku malah nggak bisa tidur nyenyak”, candanya
“Ntar malah nggak bisa tidur”.
“Kalau udah capek kan tidur juga”.
Pembicaraan kami terhenti ketika HP Pak Thomas berbunyi, dilepasnya tubuhku dari pelukannya, akupun turun dari tubuhnya. Ternyata dari GM yang mengontakku, menanyakan apakah aku udah datang apa belum, terlambat, pikirku.

Kuamati tubuh telanjang beliau ketika menerima telepon, kejantanannya sekarang terlihat indah menggantung di selangkangannya, cukup lama kutatap pesonanya. Kutinggalkan Pak Thomas yang lagi menerima telepon, di kamar mandi kubersihkan tubuh dan vaginaku dari spermanya sekalian mandi menyegarkan tubuh, aku tak menyangka mendapat pengalaman baru, bercinta dengan orang se-hitam beliau, mimpipun tidak pernah, sungguh bertolak belakang dengan tamuku yang pada umumnya chinese berkulit putih, tapi ternyata kenikmatan yang kudapat diatas rata rata, padahal hampir saja orderan ini aku tolak.

Pak Thomas menyusulku ke kamar mandi tak lama kemudian, maka kamipun mandi bersama, dengan senang hati aku memandikannya, tak segan kupermainkan penisnya dengan tanganku, maka dalam hitungan menit penis itu kembali menegang, beliau hanya tersenyum melihat kenakalanku tapi tak menolak, hanya membalas dengan remasan remasan di buah dadaku. Atas permintaannya, kusiram rambutku, biar lebih sexy, katanya.

Kusisir rambutku yang basah dan kukeringkan dengan handuk, Pak Thomas mendekapku dari belakang ketika aku hendak meninggalkan kamar mandi, di depan kaca rias bisa kulihat bagaimana perbedaan warna kulit kami, tapi justru makin membuatku bertambah erotic, very black and white, kubalas dengan remasan tangan di selangkangan beliau, diciuminya telinga, leher dan tengkukku, membuatku menggeliat geli. Kukocok penisnya yang mengeras, beliau memutar tubuhku, kami saling berhadapan, saling meraba, saling meremas dan saling memeluk. Ciuman berbalas cium, lidah bertemu lidah, bibir melumat bibir.

Aku duduk di closet menghadap beliau yang berdiri di depanku, kuamati batang legam dalam genggamanku sebelum akhirnya kusentuh lidahku mendarat di ujungnya, menyusuri batang hitam hingga hidungku menyentuh rambut keriting di pangkal penis, berulang kali lidahku menjelajahi penisnya. Akhirnya kumasukkan penis hitam ke mulutku, sedikit demi sedikit memasuki rongga mulut, hanya tiga perempat yang bisa masuk lalu kukocok dengan mulut. Pak Thomas memegangi kepalaku dan memulai gerakan mengocokkan penisnya ke mulutku, beliau berusaha memasukkan semua penis hitamnya tapi tidak berhasil, mulutku sudah penuh.

“Kita pindah ke dalam aja”, ajaknya sambil menarik penisnya dari mulutku.
Beliau duduk di sofa, aku bersimpuh diantara kedua kakinya, kulanjutkan permainan oral yang terputus tadi. Bibir dan lidahku kembali menjelajah kejantanannya yang sekeras baja, beliau mendesah menikmati permainan oralku. Tak lama kemudian tubuhku ditariknya, aku didudukkan di pangkuannya, kejantanannya langsung melesak tanpa perlawanan karena vaginaku memang sudah basah, kembali kenikmatan merasuki tubuhku. Aku mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulku, buah dadaku ber-ayun bebas di depannya langsung mendapat kuluman penuh gairah dari bibir tebalnya, disedot sambil di remas remas dengan gemas, aku makin melayang tinggi dalam dekapan dan pangkuannya. Desahan demi desahan semakin keras terdengar, kudekap kepalanya yang sedang menempel di dadaku, kuremas rambut keritingnya, sepertinya aku telah kehilangan control atas diriku, desahanku makin nyaring.

Tiba tiba beliau melepaskan sedotannya pada putingku, didekapnya tubuhku makin erat, tanpa melepaskan penisnya beliau berdiri sambil menggendongku. Kontan aku teriak kaget takut jatuh, tapi beliau hanya tersenyum penuh percaya diri, kujepitkan kakiku makin erat ke pinggulnya. Masih menggendongku, berjalan menuju ke meja makan dan mendudukkanku di atasnya, terus terang aku kagum dengan tenaganya yang mampu mengangkatku dan berjalan sambil kejantanannya masih berada di vaginaku, takut terjatuh maka kupeluk makin erat beliau. Aku terduduk di tepi meja makan, kakiku masih melingkar di pinggulnya, kami berhadapan saling menatap penuh nafsu, wajahnya bagiku sudah tak seram lagi. Bersamaan dengan bibirnya mendarat di bibirku, beliau menyodokkan penisnya dengan keras, ciumannya hampir terlepas ketika aku mendongak kaget dan enak.

Sodokan demi sodokan menghunjam keras di vaginaku, meja makan bergoyang keras, tak kami pedulikan gelas dan piring yang masih berserakan di meja ikutan bergoyang. Tubuhku condong ke belakang, kutahan dengan kedua tanganku, kocokan beliau makin cepat sambil mengelus dan meremas remas kedua buah dadaku, sesekali diselingi gigitan pelan di dagu. Aku sudah tak tahan mendapatkan kenikmatan ini, tapi sebelum kugapai puncak kenikmatan, beliau meminta kami berganti posisi.

Kubereskan sebentar peralatan makan di meja, sekedar cukup untuk tubuhku di atasnya. Aku berdiri dan tengkurap di atas meja, kubuka kakiku lebar lebar saat beliau menyapukan kejantanannya dari belakang, dengan sekali dorong, kembali busur hitam itu mengisi vaginaku, ooh nikmat sekali dengan posisi doggie seperti ini, kurasakan kenikmatan yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Hanya beberapa menit aku bisa bertahan dari kocokannya, sebelum akhirnya aku menjerit penuh kenikmatan, masih dalam posisi telungkup, kuremas kuat pinggiran meja saat kugapai orgasmeku. Pak Thomas masih mengocokku beberapa menit lagi sampai kurasakan denyutan kuat mengantam dinding dinding vaginaku, diiringi teriakan dan remasan kuat di pantatku. Aku menyusul Pak Thomas ke ranjang setelah membersihkan tubuhku di kamar mandi, kami sama sama tidur telanjang, dengan gemas kugenggam terus kejantanan Pak Thomas hingga kami tertidur pulas.

Keesokan harinya kami bangun pukul 7 pagi, mandi bersama tanpa terjadi sesuatu yang perlu diceritakan, kecuali tentu saja hanya remasan remasan nakal selama kami mandi, tapi tidak berkelanjutan.
“Ly, saya ada meeting seharian, kamu boleh pulang tapi nanti malam kesini lagi ya”, kata Pak Thomas setelah mengenakan pakaian safari, ciri khas pejabat, entah permintaan atau perintah.
“Terserah Bapak saja, saya sih ngikut”, jawabku dengan senang hati, tentu saja disamping dapat bayaran aku juga dapat kenikmatan yang lebih dari beliau, bahkan sampai sekarang busur hitamnya seperti masih mengganjal di vaginaku.

Setelah mengambil amplop tebal yang beliau siapkan di meja, akupun meninggalkan beliau yang kemudian juga pergi beberapa menit setelah kepergianku. Sempat kami bertemu di lobby karena aku tidak langsung pulang melainkan membeli beberapa pastry untuk camilan di tempatku nanti. Saat bertemu kami seolah tidak saling mengenal, wajar-wajar saja, apalagi beliau berjalan bersama beberapa orang, hanya pandangan mata kami yang sempat bertatapan penuh arti. Selama beliau di Surabaya selama 3 malam, selama itu pula aku menemaninya di malam hari, hingga keberangkatannya ke Jakarta dulu sebelum balik ke Indonesia Timur, tempat kerjanya.

Karir beliau terus melejit, seiring dengan arus reformasi hingga sampai ditulisnya cerita ini tahun 2003. Selamat bertugas Pak Thomas, aku mengenang malam malam yang telah kulalui bersama Bapak.

Lily Panther 9: Figuran

Posted in Karya Lily Panther on 6 Maret, 2008 by elilagi

Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru
“menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca:”Kisah Seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.

FIGURAN

Selama perjalanan menjalani kehidupan sebagai seorang Call Girl, banyak kualami bermacam perilaku sexual, banyak kupelajari kehidupan yang sama sekali tak pernah terlintas sebelumnya, mungkin sebagian besar masyarakat menyebut kelainan sexual, sebagian lagi menyebut gaya hidup bahkan sebagian lainnya menyebut petualangan, terserah dari sudut mana mereka memandang, tapi bagiku semua itu adalah expresi naluri liar yang ada dalam diri manusia. Sudah beberapa kali aku melayani tamu yang mempunyai fantasi sexual yang liar, mereka minta dilayani 2-3 wanita, meskipun sebenarnya kebanyakan dari segi fisik tidak mampu, tapi fantasi untuk diperlakukan bak raja mengalahkan logika mereka.

Sore itu seperti biasa aku sudah meluncur dari satu hotel ke hotel lainnya, dari satu ranjang ke ranjang lainnya, dari pelukan satu laki laki ke laki laki lainnya. Sebenarnya tamuku kali ini bukanlah seperti umumnya, dia mengaku bersama istrinya ingin main bertiga, katanya, ini adalah kali kedua aku melayani suami-istri (baca: “Ada Apa Dengan Cinta?”).

Meskipun aku sudah ‘kebal’ dengan perilaku aneh, tapi aku masih belum bisa mengerti mengapa seorang istri membiarkan suaminya bercinta dengan wanita lain, di hadapannya pula, bahkan ikutan terlibat, tapi apa peduliku sejauh mereka membayar sesuai kesepakatan bagiku tidak ada salahnya.

Aku bukanlah seorang bi-sexual yang bisa melayani laki laki dan perempuan, aku juga cukup sering melayani seorang laki laki bersama gadis lainnya, tapi dengan sepasang suami istri sebenarnya memberikan sensasi yang jauh lebih tinggi daripada sekedar permainan bertiga umumnya.

Ketika sampai di kamar yang kutuju, istrinya, seorang wanita berkulit putih yang tidak terlalu cantik menyambutku di pintu kamar hotel di jalan Basuki Rahmat, usianya kutaksir awal 40-an tapi bodynya masih bagus seperti layaknya gadis 20-an, suaminya kelihatan acuh menyambut kedatanganku, mungkin berusia 50 tahunan, cukup jauh perbedaan mereka.

“Mas, ini Lily sudah datang nih”, kata si istri pada suaminya yang hanya melirikku sambil nonton TV.
“Hmm.., langsung aja suruh dia mandi”, perintahnya dengan angkuh tanpa melihatku.
Agak ragu juga aku melihat penerimaan suaminya seperti itu, mungkin dia tidak cocok denganku atau bagaimana, aku nggak tahu. Istrinya hanya melihat dan tersenyum ke arahku seraya menggandengku ke kamar mandi.
“Mandi dulu lalu kenakan ini” kata si istri menyerahkan piyama batik yang di ambil dari lemari.
“Bapak baik baik saja Mbak? kalau dia nggak cocok sama aku, lebih baik nggak jadi aja deh daripada dipaksain, ntar nggak bisa enjoy”, tanyaku melihat keangkuhan suaminya.
“Dia emang begitu, dingin dingin mau, lihat aja nanti, percaya deh sama aku”, jawabnya meyakinkan.
Si istri ternyata tidak keluar ketika aku mulai melepas kaos dan celana jeans-ku, dia malah ikutan melepas pakaiannya sambil melihatku mandi.
“Maaf Mbak, aku nggak bisa melayani Mbak”, kembali aku menegaskan posisiku ketika kulihat dia sudah hampir telanjang.
“Huss, aku juga nggak mau, jangan pikirkan itu, yang penting suamiku puas”
“Maass, mau ikutan mandi bareng nggak”, teriak istrinya dari kamar mandi, namun tak ada jawaban dari suaminya, bahkan sampai teriakan ketiga juga tidak terdengar jawaban.
“Body kamu bagus, pasti dia cepat mabok kepayang”, komentarnya saat melihatku mandi.

Selesai mandi aku tak jadi mengenakan piyama, aku dan si istri hanya berbalut handuk di dada, kami keluar bersamaan. Ternyata si suami sudah berbaring di atas ranjang, hanya mengenakan celana dalam, si istri memandangku penuh arti lalu menganggukkan kepala, aku segera mengerti. Tanpa rasa segan pada istrinya, aku menyusul suaminya ke ranjang, tapi sebelum sampai ke ranjang, si istri menarik lepas handukku hingga aku telanjang di depan suaminya.
“Wow, kamu cantik dan sexy dengan payudara yang indah”, komentar suaminya melihat tubuh telanjangku.
Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya, langsung berjongkok di antara kedua kakinya, kuraba raba pahanya, terlihat
kejantanannya yang menonjol dari balik celana dalamnya, sengaja kuperlambat irama permainan, tidak segera menyentuh
kejantanannya.
“ciumi dadanya Ly, dia senang diperlakukan seperti itu”, bimbing istrinya yang duduk di samping suaminya.
Segera kunaiki tubuh si suami, kuciumi pipi dan lehernya, kujilati putingnya, lidah dan bibirku turun terus menyusuri dada dan perutnya, tanganku mulai meraba dan meremas remas kejantanan yang semakin keras.

Mereka berciuman ketika kulepas celana dalamnya, langsung keluarlah penisnya, tidak terlalu istimewa, biasa saja. Langsung kugenggam dan kuremas remas, kukocok kocok, mereka masih berciuman bibir sambil tangan si suami meremas remas buah dada istrinya.
“Kulum dan lumat dia”, perintah istrinya saat melihatku sudah mulai menciumi kejantanan suaminya.
Ketika lidahku mulai menyentuh kepala penisnya, kulihat sesaat suaminya melihat ke arahku.
“Uff.., ya terus sayang”, komentarnya, entah ditujukan padaku atau pada istrinya.

Kami segera kembali saling melumat bibir, kusapukan lidahku ke seluruh kepala dan batang penisnya, bahkan hingga kantong bola, desahannya tertahan di mulut istrinya. Mereka menghentikan ciumannya ketika kumasukkan kejantanannya ke mulutku, keduanya melihat bagaimana penis itu menerobos masuk di sela sela bibir manisku lalu meluncur keluar masuk dengan cepat, tangan si suami memegang kepalaku dan mendorongnya lebih dalam.
“Ssshh.., kamu pintar manis.., teruss.., yaa” desahnya kembali.
Tak lama saat si istri menyodorkan putingnya ke mulut suaminya, bergantian mereka mendesah. Aku masih menjalankan tugasku, menjilat dan mengulum saat suami istri itu berganti posisi, mereka membentuk 69, ke empat tangan bergantian mengocok penis itu diselingi jilatan dan kulumanku. Beberapa kali jeritan si suami terucap disertai pujian saat penis itu meluncur di mulutku, istrinya hanya tersenyum dan menatapku tajam setiap kali kulumat ataupun kusapukan lidahku pada kejantanannya, dia seperti menikmati, namun tak sekalipun bibirnya menyentuh penis suaminya, apalagi menjilati atau mengulum, entahlah.

Si istri memutar tubuhnya, dia mengatur posisi di atas suaminya, perlahan tubuhnya turun diiringi desahan nikmat, aku yang masih berada di selangkangan dengan jelas melihat bagaimana penis itu pelan pelan menguak liang kenikmatannya sambil kuelus elus kantong bolanya. Tubuh si istri langsung turun naik ketika berhasil melesakkan semua penis si suami, seperti naik kuda dia menghentakkan tubuhnya dengan kuat diiringi desahan desahan erotis.
Aku berpindah ke atas, kuciumi pipi si suami, dia langsung meraih kepalaku dan melumat bibirku dengan penuh gairah, lidah kami saling beradu, tangannya menggerayangi kedua buah dadaku, meremasnya agak kuat, sekuat goyangan istrinya di atas. Vaginaku terasa semakin basah melihat permainan liar istrinya, ingin segera merasakan kenikmatan yang di dapat si istri, tinggal tunggu kesempatan, pikirku.

Sambil mendapat kuluman bibir dan remasan, tanganku tanpa sedar mulai mempermainkan klitorisku sendiri, kusodorkan putingku ke mulut si suami, disambutnya dengan kuluman kuluman liar pula, dan akupun ikut mendesah. Ketika kulihat jeritan orgasme dari si istri, aku merasa giliranku segera tiba, kugeser tubuhku di belakang si istri, seperti
orang yang sedang mengantri. Meskipun sebenarnya penampilan maupun wajah si suami tidaklah menarik perhatianku, tapi melihat permainan mereka aku jadi ikutan terbawa suasana, dan lebih lagi sensasi bercinta dengan laki laki di depan istrinya sungguh tak pernah kulupakan.
“Aduh Mas, enak banget, lebih asyik dari pada di rumah”, kudengar bisikan istrinya di sela sela sengalan napasnya, mereka berpelukan beberapa saat.

Aku masih di belakang si istri sambil mengelus elus kantong bola suaminya, berharap dia segera turun. Setelah istrinya turun, si suami menarikku dalam pelukannya, kami kembali berciuman dan bergulingan, dia mencumbui sekujur
tubuhku, menjilati leherku, melumat kedua putingku. Vaginaku yang sudah basah semakin basah, ingin segera kumasukkan kejantantan itu, tapi rupanya dia masih ingin mempermainkanku lebih lama, padahal aku yakin penis tegangnya hanya beberapa mili dari liang kenikmatanku, bahkan sesekali kurasakan gesekan keras di bibir vaginaku, tapi belum juga terjadi penetrasi, aku makin tersiksa seperti cacing kepanasan, berulang kali permintaanku untuk segera melesakkan penisnya hanya ditanggapi dengan senyuman.

Istrinya yang dari tadi hanya melihat suaminya mencumbuiku, mulai ikutan, dia mengelus elus punggungnya, menciumi pantatnya lalu mengocok penisnya dengan tangannya, sesekali diusapkan ke vaginaku tanpa memasukkan. Kupeluk erat tubuh si suami di atasku, ingin rasanya segera mendapat kocokan di vagina, ciumannya turun hingga mencapai
selangkanganku, lidahnya menjelajah seluruh daerah intim kenikmatan yang sudah basah, aku semakin mendesah terbakar birahi.

Tiba tiba si istri telentang di sampingku, menarik tubuh suaminya dari selangkanganku dengan paksa, tentu saja aku kecewa tapi apa dayaku, aku tak berhak untuk menuntut apa lagi menuntut layanan atas suaminya. Dengan hati dongkol aku terpaksa tersenyum saat si suami mengecup bibirku dan berpindah dari tubuhku ke atas tubuh istrinya. Aku masih telentang terdiam dengan perasaan dongkol, napasku yang mulai menderu semakin kencang saat melihat pantat si suami
mulai turun naik dengan cepat di atas tubuh istrinya, diiringi desahan desahan nikmat mereka berdua.

Permainan mereka sungguh menggoda, aku jadi terbawa untuk ingin ikutan bermain bertiga, berulang kali kugoda mereka untuk mengalihkan perhatiannya padaku tapi sepertinya si istri selalu menghalangi ketika suaminya hendak beralih padaku, kecuali hanya sebatas cumbuan dan rabaan. Sambil mengocok istrinya, tangan si suami menggerayangi tubuhku, aku hanya mendesah sambil mempermainkan klitoris dengan jariku sendiri, tak kupedulikan lagi mereka, kini akupun ikutan mendesah dengan caraku sendiri, dibantu rabaan si suami.

Mereka bercinta dengan liar, berganti ganti posisi, aku selalu menempatkan diri supaya tubuhku terjangkau dari rabaan si suami, terkadang secara demonstratif kupermainkan klitorisku di depan si suami. Namun semua usahaku untuk merengkuh orgasma sia sia belaka, aku memang tak pernah melakukannya sendiri sampai orgasme dan memang tak inging karena selalu ada laki laki yang memenuhi hasrat ini, mana bisa dibandingkan kenikmatan kocokan penis dengan permainan jari di klitoris.

Ketika mereka berposisi doggie, aku berdiri di depan suaminya, kusodorkan vaginaku ke mukanya, dia menyambut dengan jilatan lidahnya di klitoris tanpa menghentikan kocokannya, kuremas remas rambutnya. Bahkan ketika aku ikutan nungging di atas tubuh istrinya, dia hanya menciumi vagina dan pantatku, aku hanya berharap dia memenuhi hasratku segera, paling tidak dengan kocokan jari jari tangannya sudah cukuplah saat itu, tapi tidak terjadi.

Entah sudah berapa kali kudengar teriakan orgasme dari si istri, tapi dia selalu menghalangi setiap kali suaminya berusaha menghentikan kocokannya dan beralih padaku. Akhirnya aku menyerah pasrah, mungkin nanti setelah babak ini tiba gilirannya. Kupeluk si suami dari belakang, yang mengocok istrinya, buah dadaku menempel rapat pada punggungnya yang berkeringat, terasa hangat, kugesek gesekkan sambil meraba raba dada dan perut yang agak buncit itu, sesekali kuciumi tengkuknya, dia menggeliat geli. Tangannya kubimbing ke selangkanganku, namun dia hanya mengusap usap klitoris dan menggesek bibir vaginaku tanpa berusaha memasukkannya, bahkan ketika kupaksa memasukkan jari jarinya, dia malah menariknya, aku semakin hopeless. Mereka bersetubuh dengan liar seakan melupakan keberadaanku di kamar itu.

Harapanku semakin terbang menjauh saat kudengar teriakan kenikmatan puncak mereka berdua secara bersamaan. Si suami segera menarik keluar kejantanannya, membalik tubuh istrinya lalu menjepitkan penis yang masih basah karena cairan kenikmatan itu di antara kedua buah dadanya. Kulihat berulang kali si istri menghindar dan menutup rapat bibirnya saat kepala penis mengenai mulutnya. Si suami melihat ke arahku, seperti baru sadar aku ada, ditariknya tubuhku lalu ditelentangkan di samping istrinya, dia beralih menaiku tubuhku dan menjepitkan penisnya ke buah dada sambil memainkan putingku hingga akhirnya melemas beberapa menit kemudian, diakhiri dengan kocokan di mulut. Kurasakan aroma sperma yang kuat menyengat memenuhi rongga mulutku, pasti sudah berampur dengan cairan istrinya. Dia tersenyum puas, tanpa kata meninggalkanku sendirian di ranjang, menyusul istrinya ke kamar mandi. Tak lama kemudian
kususul mereka yang sedang mandi, berdua dengan istrinya kami memandikannya.

Babak selanjutnya ternyata tak lebih baik, sepertinya mereka memang menyewaku hanya untuk menambah sensasi, perananku sebagai foreplay dan penutup tanpa aku bisa merasakan permainan yang sebenarnya, seperti layaknya figuran yang hanya numpang lewat penambah indahnya permainan.

Pukul 23:30, setelah membersihkan diri dan mandi, aku pamit pulang, sebenarnya mereka masih mengharapkanku untuk menginap, melanjutkan permainannya, namun meskipun statusku dibayar tapi kalau berperan seperti itu tentu merupakan siksaan yang berat. Dengan alasan aku sudah ada janjian dengan orang lain, maka mereka tidak bisa menahanku lebih lama lagi karena memang sebelumnya tidak ada permintaan untuk menginap.Akhirnya mereka melepaskan kepergianku, mungkin dengan kecewa. Hingga keluar kamar meninggalkan mereka berdua, aku tidak tahu nama suami istri tersebut, hal ini bukan pertama kali terjadi, bahkan terkadang meskipun kami tidur dan bercinta semalaman tak jarang aku tidak tahu nama orang yang telah meniduri dan menikmati tubuhku.

QUICKIE

Akupun langsung naik ke lantai 9, karena memang sudah janjian untuk menemani menginap dengan tamuku yang lain.
Dengan tamuku inilah aku berharap bisa menumpahkan segala birahi yang tertahan sejak tadi, ingin kuberikan servis yang sepenuhnya, bercinta hingga pagi, nonstop.

Pak Beni, nama tamuku berikutnya, ternyata sudah menungguku, terlihat sinar kelelahan di matanya.
“Ah akhirnya kamu datang juga, hampir kutinggal tidur”, sambutnya ketika membukakan pintu kamar.
“Maaf Pak, habis tadi teman teman ngundang pesta ulang tahun dulu, untung aku bisa ngabur nemuin Bapak”, jawabku berdalih.
Mana mungkin aku berterus terang kalau sedang menemani tamu lainnya. Sudah menjadi watak dasar manusia, meskipun statusku hanyalah gadis panggilan tapi kalau mendengar aku sedang bersama laki laki lain selalu timbul rasa cemburunya, ini berdasarkan pengalamanku.

Aku langsung mandi, dua kali dalam waktu tidak lebih 10 menit, di kamar yang berbeda dan dengan orang yang berbeda pula, sekedar meyakinkan bahwa tidak ada lagi sisa sisa dari tamuku sebelumnya. Selesai mandi kukenakan piyama yang ada di lemari dan kutemani Pak Beny yang sedang tiduran di ranjang menungguku.
“Bapak capek ya, sini aku pijitin”, aku menawarkan diri.
“Pijit beneran ya, kebetulan aku lagi capek dan ngantuk, dari Jember tadi, jalanan macet lagi”, jawabnya sambil langsung tengkurap.
Sepuluh menit aku memijit kakinya, kudengar dengkur kelelahan dari Pak Beni, rupanya dia sudah tertidur kelelahan,
meninggalkanku seorang diri dalam keadaan masih terbakar gairah. Tak tega rasanya membangunkannya, dan tidaklah etis kalau aku memaksa dia untuk melampiaskan nafsuku, maka akupun kembali “menganggur” mendengarkan dengkurannya.
“sungguh malam yang sial” pikirku, baru kali ini aku dibooking oleh 2 laki laki dalam semalam tanpa merasakan penis di vaginaku. Dengan susah payah akhirnya akupun tertidur di sampingnya dalam keadaan birahi yang masih menggantung tinggi.

Keesokan paginya saat aku terbangun, kulihat Pak Beny sudah rapi bersiap untuk pergi.
“Pagi Pak, maaf aku baru bangun, abis Bapak nggak ngebangunin sih”, sapaku lemah.
“Sorry, semalam aku tertidur, habis pijitanmu enak sih, dan lagi badanku terasa capek banget”, jawabnya sopan.
Kulihat dia meletakkan amplop putih di atas meja.
“Aku ada rapat nanti jam 9 ini, kalau kamu pulang titipkan saja kuncinya di receptionist dan ini uang kamu”, lanjutnya.

Pak Beny adalah pelanggan tetapku, setiap kali ke Surabaya dia selalu mem-booking-ku, biasanya kami bercinta hingga pagi, tapi kali ini lain. Mungkin karena sudah “akrab” dia tetap membayarku meskipun dia tidak menerima servis atau menikmati tubuhku, aku jadi nggak enak dibuatnya.
“Ah nggak usah Pak, toh kita nggak ngapa ngapain, lagian aku sudah numpang tidur di sini”, aku menolak pembayarannya.
“Jangan begitu, kamu toh sudah meluangkan waktumu menemaniku tidur, jadi sudah hak kamu untuk mendapatkannya”
“Tapi aku kan tidak berbuat apa apa untuk Bapak”, aku masih bersikeras
“Itu salahku dan aku tidak mau kesalahan itu merugikan kamu”
Aku terdiam sesaat.
“Aku tidak bisa terima pemberian tanpa mengerjakan apa-apa”
“Ya udah kalo begitu bersihkan kamar sebelum pergi”, katanya sambil tertawa.
“Bapak kan rapat jam 9, sekarang masih jam 8, jadi ada waktu 30 menit kan”, bujukku sambil mendekatinya.
Kupeluk tubuhnya yang setinggi telingaku itu, sambil tanganku meremas remas selangkangannya.
“Kamu memang pintar ngerayu, maumu apa” tanyanya pura pura
“Paling 10 menit aja” jawabku meyakinkan sembari membuka resliting celananya, dia diam saja.
“Mana bisa 10 menit, paling tidak 30 menit”
“Percaya aku deh, 10 menit tidak lebih, bahkan mungkin kurang”, tantangku sambil mengeluarkan dan mengocok penisnya.

Kuciumi lehernya, aroma parfumnya terasa lembut menyengat, kukeluarkan kejantanannya, dia mulai mendesis dan menjamah dadaku, tangannya diselipkan di balik piyama, meremas remas lembut bukit ranum di dadaku. Aku merosot turun dari pelukannya, berlutut di depannya, penisnya tepat di depanku, sedetik kemudian kulahap habis dan keluar masuk ke mulutku. Pak Beny mendesis, meremas remas rambutku dan mulai menggerakkan pinggulnya mengocok mulutku.
Lidah dan bibirku bergerak lincah sepanjang penis yang makin keras menegang, sesekali kuselingi dengan gigitan ringan menggoda. Aku lalu duduk di atas meja menghadapnya, piyama sudah melayang dari tubuhku, kusapukan penis tegangnya, tanpa menunggu lebih lama, dia mendorong masuk melesakkannya ke vaginaku, terasa sedikit sakit dan perih karena vaginaku masih kering, hanya air liurku yang ada di batang penis menjadi pelumas, dengan sedikit usaha akhirnya bisa tertanam semuanya. Terasa begitu nikmat setelah tersiksa semalaman, seperti biasa, Pak Beny langsung mengocokku dengan cepat dan keras, permainannya memang cenderung kasar namun menimbulkan kesan erotis.

Dia meremas remas kedua buah dadaku dengan keras, tiba tiba secara kasar dicabutnya penis itu, tubuhku dibalik, aku menungging di depannya, tanganku bersandar pada meja, detik berikutnya dia mulai memompaku dari belakang, tepat menghadap cermin di atas meja. Aku terdongak merasakan sodokan demi sodokan, ditariknya rambutku ke belakang, lalu pegangannya beralih ke buah dadaku dan meremasnya kuat. Aku menjerit antara sakit dan nikmat, Pak Beny tak mempedulikan jeritanku, semakin kuat dia membenamkan ke vaginaku, sesekali diiringi tamparan ringan pada pantatku, terasa agak panas, semakin aku mendesah semakin kuat tamparannya, kutoleh wajahnya menyeringai menikmati permainan ini, pantatku sudah agak memerah.

Permainan kasarnya membawaku melayang mengarungi lautan kenikmatan, aku mengimbangi dengan goyangan pantat, meremas remas kejantanannya yang berada di vaginaku, akhirnya kurasakan tubuhnya menegang, cengkeraman di buah dadaku makin kuat dan menyemburlah cairan nikmat memenuhi celah celah kenikmatanku, terasa hangat, seiring dengan denyutan denyutan kuat menghantam dinding-dinding kewanitaanku. Pak Beny menjerit keras dalam kenikmatan bercinta saat kuremas remas dengan otot otot vaginaku.

Meskipun aku belum orgasme tapi aku sudah puas melihat tamuku mendapat kenikmatannya. Segera kucabut penisnya, kuraih dan kugenggam, ternyata masih cukup keras. Aku mengambil piyama yang tergeletak di lantai untuk membersihkan penis itu, tapi Pak Beny mendorong tubuhku turun, mengerti maksudnya, maka kukulum kembali penisnya sambil
kusapu-sapukan ke wajahku, bau sperma sangat kuat, lebih tajam dari punya tamuku tadi malam.

“8 menit, ternyata kamu memenuhi janjimu, tak lebih dari 10 menit”, katanya saat aku “mencuci” penisnya dengan mulutku.
Dia langsung memasukkan kejantanannya kembali ke ’sarang’nya setelah dirasa cukup bersih.
“Kuncinya kasih aja ke receptionist kalau kamu pulang nanti”, katanya sambil menutup resluiting celananya.
“Nanti siang kalo Bapak masih mau ngelanjutin, HP aja ya”, kataku sebelum dia meninggalkan kamar.
Aku tahu bagi dia tentu belum cukup kalau hanya permainan cepat seperti itu dan aku yakin uang yang dibayarkan adalah untuk tarif menginap seperti biasanya, meskipun aku belum membuka amplop itu.
“Tergantung nanti”, jawabnya seraya menutup pintu kamar.

VAGINA MONOLOG

Sepeninggal Pak Beny, aku kembali rebahan di ranjang, ingin melanjutkan tidurku yang tidak terlalu nyenyak, kunyalakan HP dan membaca SMS yang masuk, tidak ada booking-an yang masuk, semua SMS hanyalah ajakan hura hura nanti malam.

Aku kembali terlelap dalam pelukan ranjang hangat nan empuk, tiba tiba HP-ku berbunyi, agak malas juga menerimanya, ternyata Pak Indra, salah satu tamu langgananku yang unik.
“Haloo, pagi Bapak”, suaraku agak parau.
“Pagi Non, baru bangun rupanya ya”, suara dari seberang sana.
“Ih Bapak sok tahu deh”, jawabku manja
“Dari suaranya emang kelihatan kok, masih parau”
“Ah udah lama kok, tapi tidur lagi, abis cuacanya ngajak tidur sih”, aku memberi alasan karena diluar memang mendung.
“Ya udah, kalo nggak ada acara kita ketemu yuk, gimana?”, ajaknya
“Kapan dan dimana?”, aku mulai antusias mendengarnya.
“Gimana kalo sekarang aja, aku lagi ada seminar di hotel xx, giliranku nanti setelah makan siang, jadi kita bisa ketemu sebelumnya, kalo sesudahnya nggak bisa, gimana?”
Aku terdiam kaget, entah kebetulan macam apa ini, ketiga tamuku berturut turut berada di hotel yang sama, tinggal naik atau turun lantai.
“Haloo, gimana Ly, bisa nggak?”
“Pagi ini? Kasih aku satu jam deh, mandi dulu, sarapan dulu, dan pagi gini biasanya kan macet, Bapak di kamar berapa sih?”
Dia menyebutkan nomor kamarnya, berarti aku harus naik lagi 2 lantai, sengaja aku minta waktu lebih lama supaya tidak curiga kalau kami berada di hotel yang sama.

Kumanfaatkan waktu yang tersisa dengan mandi dan berendam di bathtub, air hangat serasa melemaskan otot ototku dan meredakan ketegangan yang ada dalam diriku, begitu relax dan santai. Lebih 30 menit kuhabiskan dalam nikmatnya pelukan air panas di pagi hari, segera aku berpakaian, pakaian yang semalam terpaksa kukenakan kembali untuk menemui tamuku ketiga dengan pakaian yang sama, make up tipis kusapukan ke wajahku dan tak lupa Issey Miyake menambah semarak aroma tubuhku. Setelah mengemasi barangku dan memastikan tak ada yang tertinggal, kupanggil Room Boy untuk menitipkan kunci ke receptionist dengan diselipi selembar 20 ribuan, kulihat dia begitu gembira menerima rejeki di pagi hari. Kususuri koridor menuju Lift, beruntunglah sepanjang jalan menuju kamar Pak Indra tak kujumpai orang yang kukenal (hal ini sering terjadi, terutama di hotel ini yang merupakan favorit tamuku setelah Shangri La).

Pak Indra menyambutku dengan ciuman di pipi, penampilannya masih seperti biasanya, tenang, lembut, ganteng dan elegant di usianya yang sudah pertangahan 40 tahun. Dia seorang dokter, katanya sih spesialis tapi aku tak tahu spesialis di bidang apa. Kumis dicukur rapi dengan dasi pink menghiasi stelan kemeja yang berwarna sama.
“Udah lama nunggu Dok?”, sapaku setelah melepaskan diri dari pelukan dan ciumannya.
“Jangan panggil gitu ah, kayak pasien aja, aku baru datang, belum juga duduk kamu udah nongol”
Pak Indra adalah salah satu tamu yang terbilang unik, dia lebih suka mengobrol dan curhat dari pada harus bercinta, entah kenapa, tak jarang dia memuji muji kecantikan dan kebaikan istrinya, toh meskipun begitu dia nyeleweng juga, secara garis besar aku jadi tahu kehidupan pribadi keluarganya, baik itu istri maupun anak anaknya secara mendetail, mulai namanya, kerjanya, umurnya, bahkan aku juga tahu dimana anak anaknya sekolah. Dia begitu terbuka padaku, tapi aku tak pernah tahu alasan dia berselingkuh.

Seperti kebiasaannya, kami duduk berseberangan di sofa, seperti orang yang lagi bicara bisnis, tak ada pembicaraan yang menjurus ke sex ataupun porno, semua hanyalah masalah ringan tentang politik, film, TV, musik dan untunglah aku yang sering nonton TV maupun baca majalah bisa meladeni pembicaraannya, jadi nggak timpang. Cangkir Chinese Tea dan snack yang ada di meja di depan kami sudah habis, mungkin sudah lebih setengah jam kami ngobrol tapi tak ada tanda tanda untuk mulai permainan panas, aku sudah mahfum akan kebiasaannya, jadi tak perlu buru buru.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10:47 ketika dia menggandengku ke ranjang, kami saling melepas pakaian, menyisakan celana dalam dan bra hitam berenda putih, kontras dengan kulitku yang putih mulus, dia memandangiku sejenak.
“Kamu makin cantik dan sexy”, komentarnya.
Dengan sopan Pak Indra merebahkan tubuhku di atas ranjang. Bibir lembutnya menyapu kening, pipi dan bibirku, aku terpejam menikmati sentuhan lembutnya menyusuri wajahku. Sapuannya perlahan menjelajah turun, leher dan dada adalah favoritnya, masih dengan lembut dia mengeluarkan kedua bukitku dari ’sarang’nya. Lidahnya langsung mendarat di puncak bukitku dan menari nari mempermainkan puting yang merah kecoklatan, aku mendesah merasakan kenikmatan yang mulai menjalar ke sekujur tubuhku. Tangan Pak Indra berpindah dari remasan di dada ke selangkangan, diselipkannya di antara celana dalamku, dia menggesek-gesekkan jarinya di bibir liang kenikmatan, masih kering. Bibirnya bergerak turun ke perut dan berhenti di antara kedua kakiku, dengan kedua giginya dia melepas celana dalam yang menghalangi gerakannya.

Aku menjerit tertahan saat lidahnya mulai menyentuh klitorisku, ada kekhawatiran kalau dia, seorang dokter, masih bisa mendeteksi sisa sisa sperma yang ada di rongga kewanitaanku, meskipun aku sudah berusaha untuk membersihkannya sejauh mungkin. Kecemasanku perlahan hilang saat bibirnya mulai mempermainkan bibir vaginaku, dengan gerakan yang kurasa indah disusurinya celah celah kewanitaan di selangkanganku, sungguh terasa kenikmatan yang berbeda dari jilatan lainnya, aku semakin mendesah nikmat sambil meremas remas kedua buah dadaku, sesekali kujepit kepalanya dengan pahaku dan meremas remas rambutnya.

Pak Indra hanya tersenyum melihat kenakalanku tapi dia terus melanjutkan permainan lidah dan mulutnya. Puas bermain di selangkangan, ciumannya kembali naik ke perut, dada dan untuk kesekian kalinya kami saling melumat dan
bermain bibir, lidah beradu lidah. Pak Indra membalik tubuhku, dijilatinya telinga, tengkuk dan sekujur punggungku hingga ke pantat, aku menggelinjang geli apalagi tangannya tak henti mempermainkan vagina dan klitoris. Memang kegemaran dan keahlian Pak Indra adalah melumat seluruh tubuh pasangannya, mungkin ini adalah kompensasi atas
kelemahan yang dia miliki. Entah berapa kali vaginaku mendapat sedotan dan kuluman nikmat darinya. Kami berpelukan mesra dan bergulingan, giliranku untuk memuaskannya, ciumanku turun ke lehar dan dada, kukulum dengan gigitan
ringan di putingnya, Pak Indra menggelinjang, lidahku menyusuri perutnya yang rata seolah tanpa lemak. Akhirnya kulepas celana dalamnya, tampaklah kejantanan yang masih tergolek lemas, inilah ke-unikan dari Pak Indra, dia
menderita impotensi ringan (menurutnya sih), laki laki normal pasti sudah tegang setelah cumbuan cumbuan seperti itu, tapi ini kasus lain, karena aku sudah berulang kali melayani dia, akupun sudah mempersiapkan mental untuk itu.

Kugenggam penisnya yang lemas, ingin ketawa rasanya melihat penis yang begitu tidak berdaya, padahal masih relative muda, tapi tentu saja kusimpan rasa itu beralih ke rasa kasihan. Kuciumi dengan penuh kasih sayang pada penis yang tidak pernah memberiku kepuasan itu, seperti menciumi mainan anak anak, tak ada sama sekali kesan kalau penis itu merupakan alat kejantanan dan kebanggaan laki laki. Begitu bersih dan kemerahan seperti penis anak anak, mungkin karena tidak pernah dipakai, karena itu tanpa ragu dan ada perasaan jijik kujilati dan kumasukkan dalam mulutku, semua bisa kulahap masuk, hidungku menyentuh rambut kemaluannya. Pak Indra mulai mendesis saat kupermainkan lidahku pada penisnya yang masih berada di mulutku, ingin kugigit karena gemas.

Beberapa menit penis itu mulai sedikit menegang, tapi masih jauh dari memenuhi syarat untuk bisa penetrasi, kombinasi kuluman dan kocokan tangan disertai elusan lembut di kantong bola membuatnya mekin mendesah desah dalam irama kulumanku.
“Kita coba Ly”, katanya, seperti kebiasaannya.
Aku telentang di sampingnya, kubuka kakiku lebar lebar, dia mengambil posisi di atas seperti layaknya laki laki siap bersetubuh, kubantu menggesekkan penisnya ke vaginaku, belum berhasil, beberapa kali kucoba tetap saja masih kurang perkasa menembus liang kenikmatanku, malahan semakin melemas. Terpaksa kuambil inisiatif lain, kuminta dia telentang, kukulum dan kupermainkan sejenak seperti tadi, sedikit menegang, segera kunaiki tubuhnya dan kuusapkan ke bibir vaginaku, namun kembali tidak membuahkan hasil.

Setelah beberapa kali usaha dengan bermacam cara akhirnya kami menyerah, terpancar sinar kekecewaan di wajahnya meskipun senyuman menghiasi wajahnya. Aku merasa gagal untuk memuaskannya, meskipun hal itu terjadi setiap kali kami bertemu, terkadang hanya sekali penetrasi tapi begitu ditarik tidak bisa masuk lagi, namun kali ini gagal total. Akhirnya kuputuskan memuaskannya dengan cara lain seperti yang biasa kulakukan pada Pak Indra. Aku berlutut di antara kakinya, dia hanya telentang menunggu permainanku. Menit pertama hanya kuciumi seluruh batangnya, menit selanjutnya jilatanku merambah ke daerah kantong bola, menit selanjutnya penis lemas itu sudah keluar masuk mulutku diiringi permainan lidah dalam rongga mulut. Pak Indra mendesah kenikmatan dengan caranya sendiri, basah seluruh selangkangannya karena ludahku yang bercecer di daerah itu, kombinasi antara jilatan, kuluman dan kocokan cukup membuatnya terbuai dalam gelombang kenikmatan yang kuberikan.

Kami berubah posisi 69, dengan posisi ini kami bisa saling memberikan kenikmatan, harus kuakui kepiawaiannya bermain oral ikutan membawaku melayang, meskipun sangat jarang aku bisa orgasme hanya dengan oral, tapi saat ini kenikmatan seperti itu sudah cukup bagiku, dari pada tidak sama sekali. Tak lama kemudian kudengar teriakan keras disusul sedotan kuat pada vaginaku, sedetik kemudian kurasakan sperma meleleh pelan keluar dari kejantanannya, segera kumasukkan penisnya ke dalam mulutku dan kurasakan spermanya yang asin gurih membasahi lidahku, aromanya masih keras kurasa. Dan penis yang lemas itupun semakin melemas dalam mulutku.
“Uff, kamu memang pintar membuat orang puas”, komentarnya setelah aku turun dari tubuhnya.
Kusapukan penis lemas itu ke wajahku.
“Ah, Bapak juga pintar mempermainkan orang kok”, pujiku jujur.

Pukul 11:30 aku sudah keluar dari kamar Pak Indra setelah mandi membersihkan tubuhku dari sisa sisa ludahnya. Meskipun tujuan kami sama sama ke lobby tapi demi keamanan kami harus jalan sendiri sendiri seolah tidak saling mengenal. Sesampai di Lobby kucoba menghubungi HP Pak Benny, tapi tidak aktif, aku belum mendapat keputusan apakah dia akan melanjutkan atau tidak siang ini.

Beberapa saat kemudian kulihat Pak Indra sudah di lobby diiringi beberapa rekannya menuju ruang seminar, aku yakin mereka adalah sesame dokter. Pak Indra terlihat begitu anggun dan berwibawa dengan setelan jasnya, pasti tak seorangpun menyangka kalau dia menderita secara psikis sejak terjadinya kecelakaan lalu lintas yang membuatnya impotent, dia hanya melirikku penuh arti ketika kami bertemu pandang, senyumnya hanya bisa diartikan antara aku dan dia.

Kutunggu Pak Benny yang belum juga ada kepastian. Setelah 20 menit tak ada juga kepastian dari Pak Benny, kutinggalkan hotel itu menuju hotel lain yang sudah menunggu kedatanganku dengan tipe dan bentuk permainan yang berbeda.

Lily Panther 8: Menggapai Matahari

Posted in Karya Lily Panther on 6 Maret, 2008 by elilagi

Terima kasih atas saran dan kritik dari semua pembaca atas ceritaku yang dimuat sebelumnya, aku minta maaf apabila tidak semua email bisa terbalas karena kesibukanku.

Nama-nama yang ada dalam cerita ini adalah fiktif/samaran belaka, jangan coba dikaitkan dengan seseorang yang anda kenal, kalau salah ntar kuwalat lho, kalaupun ada sedikit kesamaan mungkin itu kebetulan yang tidak disengaja dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan seseorang.

*****

Part 1

Akhirnya kutinggalkan Hotel Hilton yang telah menjadi rumahku selama hampir sebulan ini, sesuai kontrak kerja sama dengan Om Lok. Sebelum meninggalkan kamar kuamati sejenak kamar itu, begitu banyak kisah yang telah kulalui disini, ranjang yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidupku yang penuh warna kelabu, duka dan duka (sedikit suka) telah kulewati, tak ada kesedihan saat meninggalkan segala “kemewahan” yang ada, semua telah siap kutinggalkan.

Beberapa Room Boy melepasku dengan sedih, dengan kepaergianku tentu mereka tidak lagi mendapatkan tip yang hampir tiap hari kuberikan secara rutin setelah membereskan kamar, mereka semua tahu akan profesiku, tak bisa disangkal itu meskipun tak pernah mengatakannya, apalagi aku sering membantu keuangan apabila mereka mengalami masalah. Kubagikan masing masing 100 ribu setelah mengangkut semua barangku ke mobil, toh ini terakhir dan aku yakin dan tak ingin akan ketemu mereka lagi.

Koh Wi, si pengacara (tamu pertamaku, baca seri cerita pertama) menjemput dan membawaku ke Hotel Garden Palace. Dialah orang yang berhasil membujukku untuk meninggalkan Om Lok dan hidup bersamanya, meski tak jelas hidup bersama seperti apa, tapi bagiku yang penting hidup bebas dari ikatan Om Lok terlebih dahulu, setelah itu bagaimana jadinya, itu urusan belakang. Aku harus keluar dari kandang buaya ini, tak mungkin selamanya disini, lebih baik pergi selagi masih dibutuhkan dari pada disuruh pergi setelah manisnya tubuhku habis terhisap, tentu akan sangat menyakitkan.

“Kenapa kamu mau pergi Ly?”, tanya Om Lok beberapa hari sebelum kontrakku berakhir.
Kutolak perpanjangannya karena aku ingin bebas mengatur hidupku sendiri, tidak tergantung dia, aku juga berhak atas diriku yang selama ini selalu dalam genggaman orang lain, suatu kehidupan yang dengan sengaja “kugadaikan” ditukar dengan limpahan materi, ternyata kurasakan begitu gersang.
“Aku ingin bebas Om”.
“Kenapa? apa disini kurang bebas? semua kebutuhan sudah kucukupi, uang yang kamu dapat tidak berkurang sedikitpun, tamu juga terus berdatangan tak pernah sepi, kamu ingin apa? Mobil? Ntar Om belikan BMW, rumah? Kamu pilih sendiri yang mana? Tinggal bilang saja”, Om Lok masih berusaha membujukku dengan iming iming berbagai limpahan materi.
Tapi tentu saja dia sudah berhitung dengan cermat antara yang diberikan dan yang akan dia dapat, sebenarnya itu juga sebagian besar adalah hasil keringatku sendiri.

Aku tetap bersikukuh untuk keluar, apapun resikonya, apalagi Koh Wi sudah berjanji mendukungku apabila Om Lok bertindak macam-macam, dia kan pengacaranya dalam beberapa hal, tentu Om Lok tak berani kalau harus berhadapan dengannya. Akhirnya dia menyerah tak berhasil membujukku dengan berbagai cara dan iming-iming, tekadku sudah bulat, tak bisa ditawar lagi, hal ini juga berkat tekanan dari Koh Wi padanya. Sejak saat itu Om Lok tak pernah telepon apalagi datang ke kamarku, hanya anak buahnya yang memberi tahu kalau akan ada tamu, sekalian memberikan uang bagianku.

Beberapa hari terakhir tamuku makin banyak, tidak pernah kurang dari 3 orang, rupanya Om Lok ingin memanfaatkanku habis habisan sebelum aku lepas dari genggamannya, bahkan di hari terakhir aku harus melayani 5 tamu dalam sehari.
Kugunakan kesempatan ini untuk mulai “marketing” diriku sendiri, secara nggak langsung kuberitahu mereka kalau aku tidak akan disini sebentar lagi, terutama pada tamu tamuku yang sudah menjadi langganan. Kuberikan nomer pagerku, atas bantuan Room Boy aku telah mendapatkan pager tanpa setahu Om Lok, maklum waktu itu handphone masih belum sepopuler sekarang, nomernya masih terbatas sekali, apalagi di daerah Surabaya, masih menggunakan 082-310xx dan pesawatnya sebesar handy talkie, bisa untuk ganjal mobil mogok. Beruntung beberapa tamu tak keberatan memberiku nomer telepon, tentu saja mereka yang sudah percaya diri dan mempercayaiku.

Sengaja kutinggalkan beberapa barang pemberian Om Lok, terutama gaun malam sexy, sebagian barang rumah tangga kubagi bagikan ke Room Boy yang kupikir lebih membutuhkan. Kutinggalkan kamar itu sebagai wanita yang sama sekali berbeda dengan saat masuk sebulan yang lalu, kini namaku Lily, nama pemberian Om Lok, berbeda dengan nama pemberian orang tua yang sudah lebih dari 25 tahun kusandang (tentu saja pembaca tak perlu tahu siapa nama asliku).

“Kita sudah sampai”, kata Koh Wi menyadarkanku dari lamunan.
Ternyata Mercy sudah masuk pelataran parkir Hotel Garden Palace. Aku sendiri masih tak tahu kenapa pilihanku jatuh ke Koh Wi, padahal sudah banyak tamu yang menawarkan diri untuk “melindungiku”, menjadikan simpanannya, menjadikan istri kedua dan sebagainya, tapi aku lebih condong ke Koh Wi. Padahal dia sudah seusia papa-ku, wajahnya tidak ganteng bahkan menyeramkan dengan sedikit bekas cacar di mukanya. Mungkin karena dia “telah berjasa membimbing dan meyakinkanku” sehingga aku punya rasa percaya diri yang tinggi dalam menjalani profesi ini. Aku tak berfikir materi saat ini, karena kurasakan perhatian dan kasih sayang tersendiri darinya, dimana tak kudapatkan dari para tamu yang hanya melampiaskan nafsunya saja. Mungkin saat itu aku terlalu haus kasih sayang sehingga menjadi buta tidak melihat kenyataan bahwa dia sudah berkeluarga dan mempunyai anak seusiaku.

Sesampai di kamar kubongkar pakaianku dan kumasukkan ke lemari, kamar itu cukup luas meski lebih kecil dari Hilton, bertemakan Roman sehingga kurasakan suasana berbeda, pemandangan kota Surabaya yang lama tak kunikmati terlihat jelas dari lantai 12. Hari ini kurasakan kembali kemerdekaanku yang telah beberapa lama tergadai, hatiku begitu ceria dengan kebebasan ini. Kuutarakan niatanku membeli mobil, Koh Wi berjanji membelikanku tapi aku menolak, khawatir nanti menjadi suatu ikatan dan kemerdekaanku kembali tergadai, akhirnya kuputuskan untuk membeli Isuzu Panther dari hasil keringatku sendiri selama hampir sebulan, tanpa bantuan sedikitpun dari Koh Wi. Sengaja tidak kupilih sedan, disamping untuk menghemat pengeluaranku, juga karena aku masih berkeinginan memiliki BMW yang masih belum terjangkau saat ini, paling tidak harga jual kembali tidak terlalu jatuh, apalagi aku sedang merenovasi rumah hasil pembagian harta saat cerai dulu, selama ini tak pernah kuperhatikan, tak mungkin selamanya aku tinggal di Hotel. Aku sekarang harus berpikir sendiri soal keuangan, tak tahu bagaimana pemasukanku nanti setelah lepas dari Om Lok, meskipun optimis tapi masih belum tahu bagaimana nantinya.

Sehabis mandi sore itu, kukenakan pakaian santai, celan pendek dan T-shirt polos, rambut kukuncir ke belakang tanpa make up, toh dia bukan tamuku kali ini, jadi aku lebih bebas. Koh Wi hanya memandangku dengan pandangan yang lain dari biasanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak, kamu masih tetap cantik walaupun tanpa make up atau accessories lainnya”, pujinya melihat penampilanku yang apa adanya.
Aku hanya tersenyum dan duduk di pangkuannya. Tentu saja penampilanku jauh berbeda dengan saat menemani tamu, kini aku merasa seperti di rumah, tanpa beban untuk melayani dan memuaskannya dengan segala cara. Koh Wi mencium pipiku, kami berciuman, entah kenapa jantungku berdetak keras, padahal udah berulangkali kami berciuman sebelumnya, tapi kali ini ada perasaan lain saat aku mencium bibirnya, perasaan yang sudah lama tak kurasakan. Cukup lama kami saling melumat, aku benar benar menikmati ciuman ini, tangan Koh Wi sudah menjelajah ke dadaku, diremasnya kedua bukitku yang tanpa bra, aku menggelinjang dalam pangkuannya, tangannya menyusup di balik kaos dan mengusap usap dadaku dengan lembut, makin menggelinjang aku dibuatnya, ciumannya beralih ke telinga dan leherku membuatku tak tahan berlama lama dalam pangkuannya.

Tubuhku merosot turun ke bawah, dia melepas kaosku, kubuka resleting celananya dan kukeluarkan penisnya yang gede, inilah penis yang telah “mem-perawani” aku saat pertama kali berprofesi, penis yang telah berulang kali membuatku terkapar dalam lautan kepuasan sex. Kuusap usapkan ke buah dada dan putingku, lalu kuciumi dengan gemas sambil kupermainkan lidahku di ujungnya, dia mendesis seraya mengelus dan membelai rambutku. Belaian berubah menjadi remasan ketika kumasukkan kejantanannya ke mulutku, desisnya makin keras apalag saat aku lidah dan bibirku menyusuri batang tegangnya. Sungguh kurasakan nikmat tersendiri melakukan oral seperti ini tanpa paksaan, beberapa menit kupermainkan kejantanannya di mulutku. Dia merebahkanku di ranjang, dilepasnya celana pendek dan celana dalamku dengan sekali tarik, terpesona melihat selangkanganku, padahal udah berulang kali dia menikmatinya, tapi kali ini memang lain, semalam sebelum aku tidur yang terakhir kalinya di kamar itu, kucukur habis bulu bulu kemaluanku, ingin penampilan yang berbeda sekalian meninggalkan semua “jejak” masa lalu.

“Ha? Cantik..”, komentarnya melihat selangkangan gundul di antara kakiku.
Aku hanya tersenyum tak sempat berkomentar karena Koh Wi sudah mendaratkan bibirnya di bibir vaginaku. Aku menjerit kaget dan nikmat, lidahnya dengan lincah menari nari di klitoris dan vagina, diselingi permainan jari jemarinya yang keluar masuk liang kenikmatanku, desahanku terlepas bebas tanpa ke-pura pura-an, aku benar benar menikmati dengan setulus hati. Hampir saja aku orgasme hanya dengan permainan mulut dan jarinya, kalau saja Koh Wi tidak segera menghentikannya. Dia melepas semua pakaiannya tanpa bantuanku seperti biasanya, penisnya terlihat besar menegang, masih memegang rekor penis terbesar dalam catatanku.

Aku hanya telentang pasrah menanti, dijilatinya kedua putingku yang sudah besar agak kehitaman (terlalu sering dikulum dan disedot kuat, mulanya sih kecil kemerahan tapi kini sudah berubah, meski bentuknya masih tetap kencang seperti sebelumnya, aku sangat bersukur diberi karunia buah dada yang indah, bahkan mungkin aku berani adu keindahan dengan Tamara Blezinski yang konon katanya mempunyai buah dada terindah, Pede aja lagi), lidahnya menyusuri leherku sebelum akhirnya tubuh gendut Koh Wi menindih.

Kusapukan penisnya ke vaginaku yang basah, perlahan tapi pasti melesak mengisi rongga kewanitaanku, makin lama makin dalam hingga penis gede itu sempurna memenuhi vaginaku, rintihan kenikmatanku membuat Koh Wi makin gairah menciumi leher dan telinga, aku menggelinjang nikmat, apalagi setelah dia memulai kocokannya, perlahan dan kurasakan penuh perasaan.

Oh betapa nikmatnya, sudah lama tak kurasakan kenikmatan seperti ini, sudah lama kulupakan bersetubuh dengan penuh perasaan, kini kembali aku mengalaminya, suatu kenikmatan yang luar biasa, berkali kali kucium dan kulumat bibir Koh Wi. Kocokannya makin cepat, kuimbangi dengan gerakan pinggulku, tak kupedulikan apakah aku orgasme lebih dulu, tak kupedulikan apakah dia bisa puas apa tidak, aku ingin orgasme secepatnya sebelum dia.

Gerakanku penuh gairah, segairah hatiku membuat Koh Wi makin cepat mengocok, aku benar benar bermain total, tidak separuh hati seperti biasanya, kukerahkan segala imajinasi dan kemampuanku untuk mencapai puncak kenikmatan secepatnya, sebelum permainan menjadi liar seperti sebelum sebelumnya. Harapanku terkabul, tak lebih 10 menit Koh Wi menyetubuhiku, aku langsung terbang ke puncak, kupeluk erat tubuhnya, jeritan kenikmatanku begitu lepas keluar dekat telinganya, dibalas pelukanku dengan kuatnya meski tak menghentikan irama kocokannya, justru membuatku melambung makin tinggi.. Dan langsung lemas terkulai tak berdaya dalam tindihannya. Meskipun aku tipe wanita yang bisa orgasme ber-ulang ulang, dan itu sudah terbukti, tapi kali ini aku langsung kehilangan tenaga sesaat setelah orgasme pertamaku, mungkin terlalu dipengaruhi perasaan dan terlalu bernafsu sehingga makan banyak energi, orgasme terindah selama ini.

Koh Wi hanya tersenyum melihat aku sudah tidak menggerakkan tubuhku, bahkan mendesaHPun rasanya berat. Koh Wi masih saja sabar seperti dulu, meski dia belum orgasme.
“Oke kita istirahat saja dulu”, katanya sambil turun dari tubuhku, padahal keringat belum sempat keluar dan rokok yang dinyalakan tadi belumlah habis.
“Kok tumben udah KO duluan, masih capek ya kemarin habis di-forsir habis”, katanya ketika kusandarkan kepalaku di dadanya, kami telanjang berpelukan.
Aku hanya tersenyum, tak mungkin dia mengerti perasaan yang tengah kualami, capek bukanlah alasan bagiku, itu hal yang biasa, apalagi kalau capeknya capek enak. Justru ini adalah rekorku, karena hari hampir menjelang malam baru kurasakan satu laki laki, biasanya paling tidak sudah 2 penis yang telah mengisi vaginaku untuk waktu seperti ini.
Sambil berpelukan kuelus elus penisnya yang masih tegang, aku benar benar menyukai penis ini.

Tak lama kemudian aku sudah bergoyang kembali di atasnya, tubuhku turun naik mengocoknya, desahan kami beriringan bersahutan, tangannya yang kekar membelai dan meremas kedua buah dadaku yang berayun ayun bebas sambil sesekali menyibakkan rambut yang menutupi mukaku. Keringat kami mulai menetes deras, entah sudah berapa lama aku bergoyang pinggul di atas tubuhnya, kuputar pantatku hingga terasa penisnya mengaduk aduk rongga rongga di vaginaku, ouuhh.. betapa nikmatnya, meskipun ini yang kesekian kalinya kami bercinta, tapi masih saja kurasakan kenikmatan yang hebat, sudah beberapa kali kugapai puncak kenikmatan, tapi kepuasan memang tiada batas.

Posisi doggie yang dia minta tak menurunkan hasrat birahiku, sodokan demi sodokan menghantam rahimku, terasa sakit dan nikmat, sesekali ditariknya rambutku ke belakang sambil menyodok keras, desahan bebas lepas memenuhi kamar ini, aku benar benar bebas meng-ekspresikan kenikmatan yang kuraih, tanpa beban, tanpa malu, semua kulakukan dengan penuh perasaan, seakan tak ada lagi hari esok.

Setelah beberapa lama mengocokku, akhirnya kurasakan semprotan keras menghantam dinding vaginaku seiring dengan cairan hangat yang membasahi dan memenuhi relung relung kenikmatanku. Aku menjerit kaget dan nikmat bersamaan dengan jeritan orgasmenya, dicabutnya penis itu dan diusap usapkan ke pantatku, kurasakan spermanya meleleh keluar membasahi pahaku, akupun telungkup dalam kelelahan nan nikmat. Napas kami menderu seperti habis berlari lari, dia mengusap punggungku dengan mesranya.

“Kita ke Tretes yuk”, ajaknya setelah napas kami normal kembali tak lama kemudian.
“Kapan? udah lama aku tak kesana”, dengan girang kusambut ajakannya.
“Sabtu lusa deh kita berangkat, nginap semalam, minggu sore baru balik, gimana?”
“Asal tidak keduluan tamu bulanan yang satu itu”, jawabku, dia hanya tersenyum, kucium keningnya dan kunaiki perut buncitnya, kubiarkan spermanya menetes keluar mengenai perutnya, lalu kutinggalkan ke kamar mandi.

Layaknya pasangan yang sedang berbulan madu, kami habiskan malam itu dengan penuh gairah, tiada waktu yang terbuang sia sia, seperti orang yang kehausan di padang pasir. Tak malu aku membangunkannya di tengah malam hanya karena ingin bercinta, tentu saja dia menuruti permintaanku dengan senang hati dan tak perlu terburu buru karena yang kami punya saat ini adalah waktu yang panjang. Tak kuhiraukan lagi kenyataan bahwa aku melakukan ini tanpa dibayar, namun justru itu yang membuatku terbebas dari beban.

Ketika kubuka mataku keesokan paginya, sejenak agak asing rasanya melihat sosok laki laki masih berada di ranjangku, masih tertidur. Biasanya, setiap bangun di pagi hari (agak siang sih) selalu kutemui kesendirian dan kesunyian di kamar, kali ini terasa lain, ada Koh Wi disampingku. Selama di Hilton, belum pernah aku “keluar kandang” dan menginap sampai pagi begini, biasanya sebelum pukul 6 aku sudah meninggalkan tamuku kembali ke Hilton, karena memang biasanya tak pernah sempat tidur pulas, selalu “diganggu” dikala tertidur, baru kulanjutkan tidurku sesampai di kamarku sendiri di Hotel Hilton.

Pukul 9 pagi, Koh Wi berangkat ke kantor, meninggalkanku sendirian di kamar, kuantar dia sampai di pintu kamar, masih mengenakan piyama tanpa pakaian dalam, dikecupnya keningku sebelum pergi. Kembali kurasakan kesepian sepeninggalnya, terus terang aku tak tahu dari mana harus memulai untuk melanjutkan perjalananku, tak seorangpun yang kukenal di duniaku kecuali Om Lok, entahlah kupikir nanti saja setelah renang dan sarapan. Kuhabiskan waktu pagi di hari jum’at itu di kolam renang, bahkan makan pagi kulakukan di pinggir kolam. Kusadari beberapa pasang mata memandangku penuh, tapi tak kupedulikan. Waktu makan siang Koh Wi datang untuk makan siang bersama dilanjutkan dengan percintaan kembali hingga jam 2, lalu dia kembali ke kantornya. Besok paginya kami tidak jadi berangkat kerena keduluan datangnya tamu bulanan, tapi bukan berarti kami tidak melakukan apa apa, justru kerjaku lebih berat karena harus melakukan oral untuk membuatnya orgasme, meskipun begitu aku melakukannya dengan senang hati tanpa keterpaksaan.

Kami lewati hari hari yang menyenangkan, tiap jam istirahat Koh Wi menjengukku untuk makan siang atau sekedar Quickie, disamping itu aku sudah mulai melakukan kontak dengan tamu yang sudah memberi nomer teleponnya. Beberapa tamu bahkan telah menghubungi lewat pager, hanya berselang dua hari setelah kepindahanku, tapi dengan berbagai alasan aku sementara menghindar.

Ternyata lepasnya aku dari genggaman Om Lok sudah menyebar di kalangan GM kelas atas, entah darimana mereka mendapat informasi itu, padahal aku tidak mengenal mereka, beberapa GM menghubungi via pager ingin membicarakan “bisnis”, tentu kusambut dengan tangan terbuka, semakin banyak semakin bagus, pikirku. Diam diam tanpa setahu Koh Wi, aku menemui mereka sambil makan pagi atau sambil menemani berenang di hotel, tentu saja membicarakan tariff-nya, dari sini aku mulai melihat jalan ke depan sudah terbuka. Selama masa haid, kulakukan kontak untuk memastikan bahwa aku masih exist, bahkan beberapa sudah melakukan appointment, tentu saja saat ini tak bisa kulakukan saat jam istirahat, paling tidak setelah jam 2 siang dan selesai sebelum jam 5 sore. Meskipun Koh Wi tahu profesiku memang itu, tapi sementara aku harus menjaga perasaannya, walaupun dia tidak pernah mengucapkan melarang atau mengijinkan, entahlah nanti.

Part 2

Hari itu hari Senin, tepat sehari setelah masa haid berakhir, setelah melayani Koh Wi di siang itu dengan penuh gairah karena sudah menahan hasrat birahi selama haid, aku segera menghubungi tamuku di kamarnya di lantai 8. Sengaja kuarahkan dan kubantu tamuku untuk check-in di hotel itu supaya tidak terlalu lama diperjalanan, tentu saja menggunakan nama asliku, tak seorangpun tahu, disamping itu aku juga merasa lebih aman kalau melakukannya masih di Hotel. Kukenakan celana jeans dan kaos yang ketat sehingga terkesan sexy, apalagi ditambah bra “push-up” makin menonjokan lekuk lekuk tubuhku. Dengan tinggi 167 cm ditambah sepatu hak 7 cm, aku yakin akan membuat laki laki normal menelan ludah.

Pak David atau lebih akrab kupanggil David adalah tamu pertamaku sebagai wanita panggilan, dia adalah salah satu tamu yang datang di hari hari terakhirku di Hilton. Di usia yang relatif muda, mungkin 40 tahunan, dia mempunyai beberapa toko accessories mobil, salah satunya di daerah Kedungdoro. Pada mulanya dia menolak ketika kuajak, tapi dengan bujuk rayu dan tariff “perkenalan” untuk orang dan servis yang sama, akhirnya dia setuju tertarik.
Sesaat David terpesona melihat penampilanku yang lain dari sebelumnya, sekarang jauh lebih modis, rambut model Shaggy dan disemir agak kemerahan menambah pesonaku.
“Kamu makin cantik dan sexy”, pujinya ketika kami sudah berada di kamar dan langsung mencium kedua pipiku.
“Udah makan?”, tanyanya sambil melucuti pakaianku.
“Nggak ah lagi diet”, jawabku bohong membalas melucuti pakaiannya.
“Mandi dulu yuk, biar segar”, ajakku setelah kami sama sama telanjang, kutuntun dia ke kamar mandi dan kumandikan, tangannya tak pernah berhenti menjamah seluruh tubuhku selama kumandikan.
Kini kubiasakan untuk mengajak tamuku mandi sebelum bercinta, selain biar bersih dan segar, juga untuk menghilangkan bau keringat terutama di daerah selangkangan.

Akhirnya kami berpelukan telanjang dan saling melumat bibir di atas ranjang, ciuman penuh nafsu menyusuri leher dan dadaku, diremas remas dengan gemas sambil mengulum kedua puncak bukitku, kurasakan kenikmatan mulai menjalar di sekujur tubuhku, aku menggeliat. Sejenak pandangannya terpaku ketika melihat selangkanganku yang gundul, dia menatapku tersenyum lalu mulai menjilati klitorisku, aku mulai mendesah dan desahanku makin keras saat lidahnya mulai bermain di bibir vaginaku. Tak kupedulikan bahwa belum sejam yang lalu vagina itu telah diobok obok penis Koh Wi dan dibanjiri dengan spermanya, aku yakin tak ada lagi sisanya karena sudah kucuci bersih. Begitu bergairah David menjilati vagina gundulku sambil jari tangannya ikutan mengocok.

Kami berganti posisi, dia telentang menikmati jilatan dan kulumanku pada penisnya yang tidak sebesar punya Koh Wi, tangannya meremas remas rambutku. Kuminta dia mengangkat kakinya, kujilati penisnya hingga ke pangkal, terus turun sampai ke lubang anusnya. Belum pernah kulakukan hal itu pada tamuku sebelumnya tapi sudah sering terhadap Koh Wi, banyak improvisasi bercinta yang kulakukan, sebagai “kelinci percobaan” kulakukan terhadap Koh Wi, kalau dia menyukainya berarti laki laki lain aku yakin pasti suka, kucoba memberikan kesan dan kepuasan tersendiri pada tamuku kini.

Desahan David makin keras ketika lidahku dengan lincat bermain di sekitar lubang anusnya, kepalanya diangkat menatapku yang masih diselangkangannya, seakan tak percaya aku melakukannya. Kami ber-69, vaginaku tepat di atas wajahnya, dia langsung menjilat dengan rakus, bagitu juga aku terhadap penisnya. Puas bermain oral dan vaginaku sudah basah terangsang, aku berbalik menghadapnya, dengan posisiku di atas, kuusapkan penisnya yang menegang ke vaginaku, perlahan kuturunkan tubuhku dan melesaklah penis itu ke vaginaku, penis kedua yang kurasakan setelah seminggu hanya merasakan penis Koh Wi.

Ooohh.. sungguh nikmat merasakan penis yang lain, padahal dulu aku biasa merasakan lebih dari 3 penis dalam sehari, lebih dari 3 penis yang berbeda bentuk dan ukurannya selalu mengobok obok vaginaku setiap harinya, tapi kini lain rasanya, begitu kunikmati perbedaannya. Baru kusadari nikmatnya perbedaan setelah hanya kurasakan satu macam, mungkin itu yang membuat orang sering selingkuh, untuk mencari nikmatnya perbedaan dari satu wanita ke wanita lainnya diluar yang sudah ada di rumah.

Kudiamkan sejenak setelah semua penis itu melesak di vaginaku, kupandang wajah David yang penuh nafsu, ditariknya tubuhku dalam pelukannya dan dilumatnya bibirku sambil mulai mengocokku dari bawah. Aku mendesah dekat telinganya, kocokannya makin cepat dan pelukannya makin erat. Kami sama sama mendesah nikmat memacu nafsu menuju puncak kenikmatan. Kulepaskan pelukannya, aku mulai mengocok, tubuhku turun naik diatasnya sambil mengelus elus paha dan kantong bolanya. Aku menggeliat nikmat ketika tiba tiba dia menyodokku dari bawah, kedua tenganku tertumpu di pahanya kugoyang pantatku, dia mendesah mencengkeram buah dadaku, membalas goyanganku dengan kocokan.

Ditariknya kembali tubuhku dalam pelukannya, kami bergulingan, kini posisiku di bawah, menindih tubuhku, dada dan napas kami menyatu dalam irama kenikmatan birahi, penisnya makin cepat keluar masuk vaginaku. Kakiku kujepitkan di pinggangnya mengimbangi, makin dalam kejantanannya menembus masuk liang vaginaku, aku mendesah nikmat tak tertahankan.

Sebelum kugapai puncak kenikmatan dia sudah terlebih dahulu menyemprotkan spermanya di vaginaku, cairan hangat terasa memenuhi rongga kenikmatanku disertai denyutan denyutan kuat menghantam dinding dindingnya, aku menjerit melambung, dia terdiam menikmati saat saat orgasmenya, kugoyangkan pinggulku sambil memeras habis sperma yang masih tersisa, kudengar jeritan kaget tapi tak kuhiraukan, orgasmeku tinggal selangkah lagi dan aku tak mau kehilangan momen, goyangan pinggulku makin kuat hingga akhirnya kugapai kenikmatan tertinggi, jeritan keras mengiringi orgasmeku sambil meremas rambut David. Akhirnya kami berdua terkulai lemas tak bertenaga, tubuhnya masih diatasku, detak jantung dan napas kami saling mengisi, diciumnya bibir dan keningku sebelum turun dari tubuhku, kami telentang di atas ranjang dalam kelelahan.
“Kamu lebih hebat daripada sebelumnya”, komentarnya tanpa memandangku, cairan spermanya masih terasa menetes keluar dari vaginaku dan kubiarkan saja.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3:20 sore, cukup lama juga kami tadi bercinta, masih ada waktu satu jam lebih, masih lama, cukup untuk satu babak panjang sekali lagi. Setelah beberapa lama kami telentang saling peluk, kutinggalkan dia, kubersihkan tubuhku di kamar mandi, kucuci vaginaku dari spermanya. Kami bercinta sekali lagi dengan penuh gairah dan nafsu di sofa dan kamar mandi, tak sedetikpun waktu kami biarkan berlalu tanpa desahan penuh nafsu hingga kami sama sama terkulai tak bertenaga.

Pukul 16:45 aku sudah kembali ke kamarku, inilah “perselingkuhan” pertamaku sejak bersama Koh Wi, memang tidak ada ikatan atau perjanjian diantara kami tapi dari nada bicaranya dia keberatan kalau aku bekerja kembali, sebagai konsekuensinya dia memenuhi segala kebutuhanku termasuk uang jajan, meski nilainya jauh tidak sebanding dengan pendapatanku sewaktu di Hotel Hilton, namun ada kepuasan tersendiri dalam hal ini. Ketika Koh Wi datang, aku bersikap sewajarnya seperti tidak terjadi sesuatu, seperti hari hari lainnya, kamipun bercinta di malam harinya.

Sejak saat itu aku lakukan “perselingkuhan” dengan tamu, pada mulanya kulakukan di Hotel yang sama, namun makin lama aku semakin berani untuk “keluar kandang” ke hotel lainnya asal masih diseputaran daerah itu. Meski demikian aku tak pernah “melalaikan tugas” untuk melayani nafsunya tiap jam istirahat dan malam harinya, hampir setiap hari. Banyak alasan kalau dia menanyakan kepergianku, lagi ke rumah saudara, lagi shopping, lagi mencoba mobil baru dan sebagainya.

Part 3

Sepandai pandai tupai bersandiwara, akhirnya tercium juga, rupanya Koh Wi mempunyai mata mata di hotel yang melaporkan kepergianku setiap siang, sebagai seorang laki laki yang sudah pengalaman tentu dia bisa mencium ada ketidak beresan. Pada suatu hari dia memberiku hadiah, sebuah Handphone, waktu itu masih barang langka, tak banyak yang punya, aku senang sekali, dalam benakku tentu aku lebih leluasa bisa menghubungi tamu tamuku, tapi aku tak menyadari kalau justru dengan adanya HP aku malah tidak bisa bergerak leluasa, selalu termonitor kemana aku pergi.

Dalam seminggu nomor HP-ku sudah beredar di kalangan GM dan para tamu, hampir tiap pagi tak pernah berhenti berdering, sengaja kumatikan kalau ada Koh Wi, untuk menghindari kecurigaan. Sejauh ini aku merasa berhasil memainkan sandiwara, dan beberapa kali berhasil lolos dari lubang jarum perangkapnya, meski dia curiga tapi tak pernah aku tertangkap basah, dia hanya menyindir tanpa bukti nyata.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tak terasa sudah lebih 2 bulan aku hidup bersama Koh Wi, dan hidup berselingkuh darinya. Sepertinya semua berjalan normal tanpa ada hambatan dengan permainan kucing kucingan ini.
Suatu malam kami bertengkar hebat, dia menemukan sekotak pil KB yang selalu rutin kuminum berikut sekotak kondom yang lupa kusembunyikan, dituduhnya aku yang tidak tahu terima kasih, wanita tak tahu diri, dasar PELACUR dan segudang perkataan yang menyakitkan hatiku, bahkan karena kami sama sama emosi dia menyepakkan kakinya ke pahaku, aku menangis mendapat perlakuan kasar semacam ini, belum pernah seumur hidupku disakiti secara fisik seperti ini, meskipun penyiksaan batin telah sering aku terima.

Dia memang menghendaki aku hamil, tapi dari sisiku aku belum siap karena dia tidak bisa memberikan kepastian tentang masa depan hubungan kami, sekali tanpa sepengetahuan dia kugugurkan kandungan yang baru berumur 1-2 bulan (ya Tuhan ampunilah aku) karena aku sendiri tak tahu dari benih siapa ini. Akhirnya malam itu juga kuputuskan untuk pergi dari kamar itu, kukemasi semua barangku, bersiap meninggalkannya. Melihat keseriusanku, dia mulai melunak, dia menghiba minta maaf, berlutut di depanku dan berjanji tak mengulangi lagi, kembali dia mengungkit kebaikan kebaikannya dulu. Emosiku sudah turun, naluri kewanitaanku terusik ketika dia mengingatkan kebaikannya terhadapku, akhirnya akupun melemah, kemarahanku mencair hilang sudah kebencian yang sempat hinggap.

Kubelai kepalanya yang tersandar di pahaku, kubelai dengan penuh kasih sayang, tak tega aku membuatnya bersedih, dan kumaafkan apa yang barusan dia perbuat seperti tidak pernah terjadi. Malam itu kami kembali bercinta dengan begitu bergairah, biasa kalau pasangan habis berantem lalu damai pasti percintaannya lebih menggairahkan. Sebagai kesungguhan permintaan maafnya dia tidak ke kantor besoknya, menemaniku sepanjang hari, dan sepanjang hari pula kami becumbu dan bercinta, lebih bergairah dan lebih liar dari sebelumnya.

Namun kedamaian ini hanya berlangsung seminggu, kali ini memang kesalahanku, aku tertangkap basah di Hotel Tunjungan. Siang itu ada seorang GM meneleponku untuk datang ke Hotel Tunjungan, sebenarnya aku udah nggak mau karena sudah terlalu sore, sudah pukul 3 lewat, tentu nggak enak kalau buru buru, tapi dia berhasil meyakinkanku bahwa ini tidak akan lama karena dia juga diburu flight ke Jakarta, setelah berpikir sejenak meluncurlah Panther-ku ke HT yang jaraknya tak lebih 10 menit dari tempatku.

Sesampai di tempat parkir GM itu telah menungguku dan langsung membawaku ke kamar. Aku tertegun sesaat melihat tamuku, orangnya ganteng dan masih muda, mungkin tidak lebih dari 30 tahun, namanya Herman. Beberapa menit GM itu menemani kami sebelum akhirnya meninggalkanku berdua dengan Herman. Sepeninggal GM, Herman dengan lembut menarikku dalam pelukannya, aroma parfumnya sungguh menggairahkan, kami berciuman, bibir kami saling melumat, kurasakan hangat dan lembut sentuhan bibirnya. Aku hanya memeluk dan menggosok punggungnya, tak berani lebih jauh sebelum dia mulai terlebih dahulu, itulah prinsipku supaya tidak terlalu dianggap norak.

Ciuman kami belum terlepas ketika tangannya mulai diselipkan dibalik kaosku, mengusap punggungku lembut. Seiring dengan ciumannya di leherku, tangannya sudah bergeser ke depan, menggerayangi dadaku, mengusap lembut kedua bukitku, aku menggelinjang mulai mendesah. Herman merebahkanku di ranjang, kembali kami berciuman, masih berpakaian lengkap, bergulingan di atas ranjang. Saling mencumbu, satu persatu pakaianku dilucuti, meninggalkan bra hijau satin yang masih menutupi buah dadaku. Dijilatinya dan diremas kedua buah dadaku tanpa melepas penutupnya, aku mendesah sambil meraih selangkangannya yang mengeras dibalik celana, kuremas remas kejantanannya yang masih terkurung rapat, begitu keras seperti hendak terlepas dari sangkarnya.

Herman telentang, kini giliranku, kubuka kancing kemejanya sambil menciumi dadanya yang bidang berbulu, terlihat begitu macho, desahannya mulai keluar ketika kujilati putingnya, jilatanku turun ke perut bersamaan dengan tanganku membuka celananya. Kejantanannya yang panjang dan keras langsung menyembul saat kulorot celana dalam yang mengekangnya, tidak terlalu besar namun panjang dengan bentuk lengkung ke atas, begitu kerasnya hingga berdiri seperti tugu pahlawan yang tegak menantang ke atas. Sedetik aku terkesiap akan keindahan yang ada di depanku, kupegang dengan lembut, kuremas, kukocok, kubelai, kuusapkan ke wajahku, kuciumi dengan gemas, benar benar gemas bukan dibuat buat. Lidahku menyusuri kejantanan yang indah itu, dari kepala hingga pangkal, menari nari di kepala kejantanannya. Beberapa detik kemudian kejantanannya sudah meluncur keluar masuk mulutku, tak bisa semua masuk ke mulut tapi desahannya makin keras kudengar, buah dadaku diremas remas saat aku mengulumnya.

“Benar kata orang, kamu memang pintar oral”, komentarnya di sela desahan kenikmatan.
Tak kuperhatikan, kepalaku masih bermain di selangkangannya, kujilat habis daerah kenikmatan yang ada di sekitar itu.
“Oooh.. sshh.. Ayo ly, sekarang”, pintanya sembari menarik tanganku.
Aku segera berbalik, kusapukan kejantanannya yang makin tegang ke vaginaku, sengaja tak langsung kumasukkan tapi kugesek dan kuusapkan.
“Come oon.. pleeassee..”, desahnya.
Aku tersenyum melihat expresi wajah gantengnya yang terbakar birahi, perlahan kuturunkan tubuhku, perlahan penisnya memasuki vaginaku yang sudah basah, sebelum masuk semua kutarik lagi dan kuturunkan lagi, kugoda dia, aku begitu menikmati wajah wajah dalam birahi. Herman meraih buah dadaku dan menekan tubuhku turun, melesaklah semua penisnya dalam vaginaku.
“Ooouugghh.. ss..”, aku mendesah, betapa nikmatnya penis itu mengisi vaginaku, pelan pelan tubuhku turun naik mengocoknya, kurasakan kenikmatan demi kenikmatan setiap kali penisnya tertanam semua di dalam, desahku makin keras seiring goyangan Herman yang mengimbangiku.

Kami saling mengocok mereguk nikmat, dia mencegah ketika kubuka bra-ku, biar tampak sexy, katanya.
Tubuhku ditarik dalam dekapannya, dia mengocokku dari bawah, desahanku makin keras di dekat telinganya, berkali kali kuciumi wajahnya yang ganteng, tak segan aku melumat dan mempermainkan lidahku di mulutnya, begitu menikmatinya aku dengan tamu ini.

Aku kembali duduk diatas penisnya, kuputar pantatku, vaginaku seperti diobok obok dengan penisnya, makin nikmat rasanya, aku bertahan sekuat tenaga untuk tidak segera mencapa puncak kenikmatan, terlalu sayang untuk dilakukan dengan cepat, masih banyak yang kuharapkan darinya. Keringatku sudah mulai menetes, keringat kenikmatan, goyangan dan kocokanku makin liar tak beraturan, jak jarang tubuhku kuturunkan dengan keras menghentak, kejantanannya terasa begitu keras menghantam liang rahimku, sakit namun bercampur kenikmatan.

Herman menaikkan tubuhnya hingga posisinya duduk memangkuku, kami saling berpelukan, kepalanya disusupkan diantara kedua buah dadaku yang terbungkus bra. Lidahnya menyusuri dadaku seiring dengan kocokanku padanya, kuluman di putingku membuatku semakin cepat melambung tinggi, gerakanku sudah tidak beraturan. Kuremas kepalanya yang masih menempel di dadaku dengan gemas, kami bergulingan berganti posisi. Kakiku dinaikkan ke pundaknya, kejantanannya makin dalam pula mengisi rongga kenikmatanku, jeritan kenikmatanku semakin tak terkontrol, liar, seliar penis yang mengaduk adukku. Sodokannya begitu keras, dihempaskannya tubuhnya ke vaginaku.

“Aagghh.. aaghh.. aagghh”, desahku setiap kali kurasakan hentakan demi hentakan, sepertinya aku tak bisa bertahan lebih lama lagi menghadapi keganasan dan kenikmatan yang dia berikan, puncak kenikmatan sebentar lagi kuraih, namun tiba tiba dia menghentikan gerakannya, mencabut penisnya. Aku menjerit protes dengan mata melotot, tapi senyuman nakalnya mengalahkan protesku.

Dibaliknya tubuhku bersiap untuk posisi doggie, tanpa aba aba dengan sekali dorong dia melesakkan penisnya ke vaginaku, keras dan cepat sekali dorongannya, aku terdongak kaget, kutoleh dengan experesi marah tapi dibalas dengan senyuman menggoda. Rambutku ditarik kebelakang berlawanan dengan gerakan kocokannya, membuatku kembali terbuai dalam nikmatnya gelombang birahi.

Entah berapa lama kami bercinta sepertinya jarum jam bergerak begitu cepat, terlupa sudah batasan waktu yang kuberikan, kami mengarungi lautan kenikmatan, gelombang demi gelombang kami kayuh bersama hingga berdua mencapai puncak gelombang kenikmatan, dan kamipun terkulai lemas di atas awing. Kami melanjutkan satu babak lagi sebelum tersadar bahwa jarum jam sudah menunjukkan 17:20, berarti Koh Wi sudah pulang. Sesaat aku panic, tapi Herman menghiburku dengan belaian mesranya membuatku kembali terlupa.

Kegugupan menyergapku ketika HP-ku berdering, dari Koh Wi, dengan nada tinggi dia langsung mendampratku, kata kata pedas kembali terdengar, kali ini begitu panas dan lebih menyakitkan, apalagi masih ada Herman disampingku, entah dia mendengar atau tidak, segera kututup HP dan dengan berjuta alasan kutinggalkan Herman di kamar, aku tahu dia kecewa tapi kuminta pengertiannya.

Sesampai di kamar terjadilah perang besar, kami saling beradu mulut dengan kencang, mungkin terdengar dari luar, alasan kepergianku barusan ternyata dengan mudahnya dipatahkan karena ternyata dia sudah curiga dan menyuruh orang untuk me-mata matai, aku tak bisa berkutik berhadapan dengan pengacara ini. Tak lupa untuk kesekian kalinya dia mengungkit ungkit “jasa-jasa” nya mengeluarkanku dari Hilton, supaya aku “sadar” dan hanya miliknya, tapi kali ini tak kugubris, tekadku sudah bulat untuk keluar pula dari kamar ini, aku sudah tak tahan dalam cengkeramannya. Malam itu juga aku segera mengemas semua pakaian dan milikku, tak lupa kutinggalkan barang pemberian Koh Wi, Panther-ku penuh dengan tas dan koper, diiringi hujan rintik rintik kutinggalkan Hotel Garden Palace tempatku bernaung selama hamper 3 bulan.

Terus terang aku tak tahu hendak kemana tujuanku selanjutnya, dimalam seperti ini dan kepergian yang mendadak tentu aku tak punya rencana, hanya kuikuti emosi, yang jelas aku harus pergi dari Koh Wi. Tanpa arah tujuan kususuri jalanan kota Surabaya, baru kusadari sudah banyak terjadi perubahan, mungkin aku yang terlalu terlena dalam kehidupanku hingga tak sempat mengikuti perkembangan kotaku tercinta ini. Akhirnya kuparkir mobil ke hotel di Jalan Arjuna, entah hotel apa aku tak ingat karena memang masih baru dan check in.

Sendirian di kamar hotel yang sempit aku merenungi perjalanan hidupku yang begitu cepat berubah, kuabaikan HP yang berbunyi tanpa kuterima, sengaja aku ingin sendiri mencari jawaban atas makna hidup yang kulalui. Kukenang kebaikan dan kejelekan Koh Wi, dari dialah aku terbebas dari suatu belenggu meskipun masuk ke belenggu lainnya, dari dialah kukenal dunia malam yang penuh hiruk pikuk semu bertabur temaram lampu diskotik dan hangar bingar house music, dari dialah kumulai mengenal apa itu yang namanya ganja, extasy dan sejenisnya, semua kejadian itu kembali seolah membayang di depan mataku, hingga akhirnya aku terlelap dalam buaian angin malam.

Keesokan paginya aku seperti terbangun dari mimpi, kudapati diriku tergeletak di kamar yang sempit dan jelek, tak ada ciuman selamat pagi, tak kudapati belaian mesra di pagi hari, semuanya kosong dan hampa, sehampa hatiku. Kini aku benar benar terlepas dari lindungan orang, aku harus bisa bertahan dan berdiri sendiri tanpa mengandalkan orang lain, tak ada lagi orang yang menghiburku dikala gundah, tak ada lagi laki laki pelindungku dikala susah, sendirian harus kulanjutkan perjalananku yang aku sendiri tak tahu menuju kemana. Namun terlepas dari semua itu tekadku sudah bulat, aku harus bertahan dan tetap bertahan tanpa menggantungkan harapan pada orang lain, semua tergantung pada diriku sendiri.

Babak ketiga dalam hidupku telah kumulai setelah babak pertama di Hilton dan babak kedua di Hotel Garden Palace. Kini aku menjadi tuan atas diriku sendiri, aku bisa menentukan kapan saatnya istirahat dan kapan saatnya menerima tamu dan dengan siapa aku harus melayani adalah keputusanku sendiri, inilah saatnya memulai freelance, mengarungi hidup seorang diri tanpa bimbingan dari orang lain kecuali kata hati ini.

Lily Panther 7: Sayap-sayap Tak Berkepak

Posted in Karya Lily Panther on 6 Maret, 2008 by elilagi

Di antara tamu-tamu yang membookingku, tak semuanya masih mempunyai kemampuan dan stamina yang memenuhi syarat untuk terjadinya suatu hubungan seksual, meskipun hasrat dan gairahnya masih tinggi.

Kisah dibawah ini adalah sepotong pengalaman dari para tamu yang “burungnya tidak lagi mampu berkepak terbang”

*****

SANG DIRJEN

Tamuku kali ini sungguh lain, berbeda dengan tamuku sebelumnya, aku diminta datang ke kamarnya yang kebetulan atau memang sengaja berada di satu hotel, cuma letaknya agak berjauhan. Om Lok berpesan supaya aku berpakaian resmi seperti halnya orang kantoran, tentu saja bukan masalah bagiku karena di samping koleksi bajuku dan gaunku memang banyak, juga Om Lok selalu menyediakan gaun dan segala perlengkapan pakaian tidur yang sexy, termasuk urusan bra dan celana dalam, karena dia memang sudah mengerti ukuranku dan selera para tamu, bermacam busana baik yang resmi, santai, gaun pesta, gaun malam, baju tidur, lingerie semuanya terpajang di lemari kamarku seperti layaknya butik.

Aku sih tak keberatan dan senang senang saja dengan pengaturan seperti ini, toh meski aku tidak suka busana yang dia belikan, aku kan tidak harus pakai tiap hari dalam waktu yang lama, paling juga saat menemani tamu, itupun disesuaikan dengan selera atau permintaan tamu, ada yang minta supaya aku mengenakan busana sexy, pakaian santai, pakaian tidur, busana resmi, pakaian ketat, tanpa pakaian dalam, bahkan ada yang memintaku langsung telanjang ketika menyambutnya, biasanya kalau sudah lebih dua kali bertemu, permintaan yang aneh-aneh timbul, mungkin karena sudah merasa saling mengenal jadi mereka juga nggak segan untuk memintaku tampil berbeda, itu semua kuturuti demi kepuasan tamuku, toh bagiku nggak ada bedanya, toh semua itu akhirnya dibuka juga, toh akhirnya aku harus telanjang di depan mereka, jadi apalah bedanya semua itu bagiku, tapi sangat beda bagi mereka yang memintaku seperti itu untuk memenuhi fantasinya, yang tidak didapat di rumah.

Hari itu sebenarnya cukup melelahkan bagiku, karena mulai pagi jam 10 sudah menerima tamu, dan tamuku ketiga baru selesai jam setengah tujuh malam, kini aku masih harus melayani tamuku keempat hari itu. Meskipun dari ketiga tamuku tadi hanya satu yang bisa membuatku orgasme, tapi justru dari tamu terakhirlah aku mendapatkannya, bahkan lebih dari 2 kali, jadi capeknya masih terasa hingga malam hari. Ingin aku menolak, tapi karena Om Lok memberiku iming iming pembayaran lebih karena tamuku ini seorang pejabat, Dirjen, maka kuturuti saja karena aku juga tak ingin mengecewakan Om Lok dan pasti kalau aku menolak gadis lain yang akan menggantikannya, disamping itu keterangan dari Om Lok bahwa Pak Dirjen ini sudah tua, mungkin sudah lebih 60 tahun, jadi dua kali usiaku, “jangan jangan seusia opa-ku” pikirku, tentunya tak perlu kerja keras melayaninya, paling juga nggak lebih lima menit sudah KO dan rasanya seusia dia tak mungkin melakukannya dua kali.

Jam 19:45 Om Lok sudah menjemputku untuk di antar ke kamar Pak Yono, sang Dirjen, kukenakan pakaian kerja kantoran, rok resmi dipadu dengan blus You Can See yang ditutupi blazer biru tua, seperti orang ke kantor. Ini adalah pertama kali aku “keluar kandang”, menemui panggilan tamuku di kamarnya, tidak seperti biasanya aku melayani mereka di kamarku, bercinta dan bercumbu di ranjangku, kembali ada rasa bimbang dan gugup menggelayut di batinku, sepanjang jalan ke kamar Pak Yono kepercayaan diriku makin mengecil, seperti anak kecil pertama kali keluar dari rumah, takut tersesat dan merasa tidak aman, padahal tidak jarang kalau lagi suntuk di kamar aku jalan jalan sekitar Lobby, atau berenang di pagi hari sebelum “jam kerja” dimulai.

Ketika sampai di kamar suite Pak Yono, ternyata ada beberapa tamu yang sedang ditemui beliau, ada lima orang, dua diantaranya chinese, yang lainnya masih mengenakan seragam dari instansi tertentu. Mengetahui masih ada tamu, Om Lok mengajakku menunggu di lobby atau di kamarku, tapi salah seorang chinese tadi menghampiri Om Lok, mereka berdua bicara menjauh dariku, kemudian chinese tadi masuk kamar sebentar dan kembali menemui kami seraya mempersilahkan masuk. Aku langsung dikenalkan ke Pak Dirjen, aku kaget ketika mengetahui yang mana Pak Yono, benar dugaanku, orangnya seusia Opaku, yang jelas lebih dari 60 tahun, ada sedikit rasa jijik melihat orang sudah setua itu dan sudah bau kubur masih suka sama wanita muda. Aku dipersilakan duduk di antara mereka di kamar tamu, mereka membicarakan masalah proyek angkutan darat di Jawa Timur.

Sambil bicara sesekali para laki laki itu melirik ke arahku, aku jadi canggung dan jengah mendapat perhatian dari mereka, entah mereka tahu atau tidak siapa aku ini, tapi aku yakin ingin mereka sudah mengetahuinya, rasanya aku ingin pergi dari ruangan itu, lebih baik aku menunggu di kamarku dari pada jadi kambing bodoh di antara laki laki dengan sorot mata yang ingin menelanjangiku itu.

Untunglah Pak Yono cepat tanggap, aku dipersilakan menunggu di kamar tidurnya, ada rasa canggung berada di kamar tidur orang lain, meski itu kamar hotel tetapi beberapa barang pribadi Pak Yono menggeletak di situ, ada bungkusan menggeletak di tempat duduk satu satunya yaitu sofa panjang, aku tak berani menyentuh barang pribadi beliau, sehingga mau tak mau aku harus duduk di ranjang menunggu beliau masuk.

Menunggu adalah siksaan yang berat, lebih setengah jam aku menunggunya tapi tak nongol juga, sementara badanku yang capek makin terasa capek dengan hanya duduk tak nyaman di ranjang Pak Yono sambil nonton MTV di TV, akhirnya kuberanikan diri rebahan di ranjang itu, entah sudah berapa lama aku menunggu hingga akhirnya ketiduran di ranjang Pak Yono dengan pakaian masih lengkap.

Dalam tidurku, aku merasa sekujur tubuhku mendapatkan rangsangan tanpa sadar dan kemudian ada beban berat menindih dadaku, membuatku susah bernafas, ketika kubuka mataku Pak Yono sudah menindihku sembil menciumi pipiku, wajah jeleknya tepat di depan wajahku, aku kaget, mau marah dan teriak tapi untunglah kesadaranku segera pulih.

“Eh Bapak, mengagetkanku saja, maaf Pak aku ketiduran”, kataku segera menghilangkan kekagetanku.
“Nggak apa, aku yang minta maaf membuatmu menunggu terlalu lama”, jawabnya tanpa beranjak dari atas tubuhku, bagian kejantanannya ditekankan di selangkanganku yang ternyata kakiku sudah terbuka dengan rok yang tersingkap di perut sehingga menampakkan celana dalamku, dua kancing atas bajuku sudah terbuka sehingga bra bagian buah dadaku sudah bisa dinikmati, rupanya aku terlalu lelap tidur, mungkin Pak Yono sudah menggerayangi seluruh tubuhku saat aku tidur.
“Orang tua kurang ajar”, pikirku tapi tetap menampakkan senyuman di bibirku sambil memeluknya, baru aku tahu ternyata Pak Yono sudah melepas pakaiannya dan tinggal celana dalam yang menempel di tubuhnya.
Mukanya yang jelek dan hitam sudah menempel di pipiku, menciumi dan menjilati leherku, membuatku makin jijik dibuatnya, digumuli orang setua beliau, opa-ku saja tak pernah menciumiku sebanyak itu.
“Aku lepas baju dulu ya Pak biar nggak kusut”, pintaku

Seperti terlepas dari beban berat ketika tubuh Pak Yono beranjak dari tubuhku, beliau melarangku ketika aku mau melepas baju di kamar mandi, dengan terpaksa dan dipenuhi perasaan marah kulepas penutup tubuhku satu persatu di depannya, hingga aku benar benar telanjang bulat di hadapannya.

Begitu melihat tubuh telanjangku, beliau langsung menarikku di pelukannya, kembali wajah jeleknya menyusuri seluruh tubuhku, tangannya dengan bebasnya menjamah seluruh daerah erotisku, tangannya meremas remas pantatku kemudian beralih ke buah dadaku dan dengan rakusnya beliau mengulum putingku, aku makin muak melihat tingkah lakunya.

Kemuakanku makin bertambah ketika beliau berada di antara kakiku, dengan mata jelalatan diamatinya vaginaku, kebetulan habis aku rapihkan bulu rambutnya sehingga tampak indah, beliau memandangku dengan tersenyum lalu secepat kilat lidahnya langsung mendarat di klitorisku, aku menjerit kaget dan marah, tapi beliau tak memperdulikanku, lidahnya sudah mempermainkan klitorisku, kemudian menyusuri daerah kewanitaanku, disapukannya lidah tuanya ke bibir vagina. Tak lama kemudian jari tangannya sudah mulai ikutan mempermainkan sekitar vaginaku, dimasukkannya satu jari kemudian dua jari ke liang vaginaku, dan mengocokknya. Jujur harus aku akui bahwa permainan lidahnya sungguh menghanyutkanku, mungkin karena pengalamannya yang sudah banyak sehingga beliau bisa membuatku ikut terhanyut meski sebenarnya aku tidak menghendaki.

Sungguh aku membenci diriku sendiri ketika tanpa sengaja desahan nikmat keluar dari mulutku, permainan lidahnya terlalu nikmat bagiku, desahanku makin sering keluar tanpa kontrol, kupegang kepala Pak Yono dan kutekankan ke vaginaku, gerakan lidah Pak Yono makin ganas dan liar menyusuri celah celah kewanitaanku. Tanpa kusadari pantatku sudah bergoyang mengimbangi jilatan Pak Yono, tentu ini membuat beliau makin menjadi jadi mempermainkan vaginaku, jilatan di klitoris dan kocokan jarinya secara kompak bermain di vaginaku, memainkan irama birahinya.

Pak Yono kemudian menindih tubuhku, kupejamkan mataku ketika beliau menciumi wajahku, aku jijik melihatnya, ciumannya turun ke leher dan berhenti di kedua putingku, mengulum dengan rakusnya, aku masih memejamkan mata, jari tangannya menggosok klitorisku dan mengocoknya. Meski aku biasa melayani orang yang jauh lebih tua, tapi terhadap Pak Yono rasanya belum siap, tak seperti biasanya, entah kenapa perasaan jijik selalu menyelimutiku setiap kali wajah Pak Yono mendekat ke mukaku.

Pak Yono lalu rebah di sampingku, aku mengerti maksudnya, kugeser posisi tubuhku di antara kedua kakinya, aku kaget, ternyata kejantananku masih lemah lunglai, kupegang penisnya yang loyo, kuremas remas untuk memberikan rangsangan, mulai mengeras tapi masih jauh memenuhi syarat, belum bisa berdiri sendiri. Dengan menahan rasa muak dan jijik, kubelai dan kuciumi, belum juga bangun, maka terpaksa kujilati kepala penisnya, kemudian batangnya hingga ke kantong bola, tetap tidak membuahkan hasil yang diharapkan, kemudian kumasukkan ke mulutku, semua penisnya yang loyo masuk ke mulutku sampai hidungku menyentuh rambut kemaluannya, kukulum dan kupermainkan lidahku di kepala penisnya, berharap segera “bangkit”, tapi tetap sia-sia, hanya sedikit menegang, bahkan ketika kusapukan kepala penisnya ke putingku, masih saja tidak ada perubahan. Aku tak tahu apa yang terjadi, apakah beliau impoten, atau aku kurang bisa memberikan rangsangan atau memang sudah hilang kemampuan ereksinya, padahal biasanya hanya dengan pegangan dan sedikit ciuman para tamu sudah kelocotan mendesah nikmat.

Berbagai upaya kulakukan untuk membuatnya “hidup” tapi tetap tak membawa hasil, akhirnya kunaiki tubuh Pak Yono, kuatur posisiku di atas penisnya dan kuusap usapkan menyapu bibir vaginaku, berharap hal ini memberikan rangsangan, tapi tetap saja penis itu tak bisa bereaksi secara maximal, kembali kukulum dan kukocok dengan mulutku, aku sudah kehilangan jurus untuk membuatnya “hidup”, segala kemampuanku sudah kukerahkan tapi tetap tak seperti yang harapan.
“Susah ya nduk?”, katanya, “nduk” adalah panggilan untuk gadis kecil di jawa, kujawab dengan senyuman terpaksa, sambil kembali memasukkan penisnya ke mulutku.
“Ya sudah sini nduk, kalo memang nggak bisa nggak usah dipaksain, maklum sudah tua”, katanya sambil menarikku ke atas, rebah di sampingnya.

Pak Yono kembali menindihku, bibir dan lidahnya kembali dengan rakus menjelajah sekujur tubuhku, berkali kali beliau menyapukan penisnya ke vaginaku dan berusaha mendorong masuk tapi berkali kali pula beliau gagal melakukannya, entah sudah berapa liter ludah yang digunakan untuk membasai penis dan vaginaku, toh gagal juga.

Ketika penisnya sudah mulai agak menegang, dipaksanya mendorong masuk, kubuka kakiku lebar lebar, juga kubantu memperlebar bibir vaginaku dengan tangan, beliau berhasil memasukkan penisnya dengan paksa, bagiku tak ada artinya tapi bagi beliau sudah sangat berharga, merupakan kemajuan yang besar, kurasakan penis itu seperti “berlari-lari” di vaginaku, tapi tak sampai lima kali kocokan kurasakan cairan hangat membasahi vaginaku, tak ada denyutan atau semprotan, sepertinya sperma itu menetes dengan sendirinya, tubuh Pak Yono terkulai lemas menindihku kemudian berguling dan rebah di sisiku. Beliau miring memelukku, kaki kanannya ditumpangkan ke pahaku, sedangkan mukanya dekat telingaku, bisa kurasakan hembusan napasnya menerpa telingaku, membuatku semakin muak dalam pelukannya.

Kami terdiam pada posisi seperti ini, tak lama akupun ikut ketiduran karena memang sebelumnya sudah kecapekan. Belum kurasakan nyenyaknya tidurku, tiba tiba kurasakan tangan Pak Yono sudah kembali menjelajah di vaginaku, digosoknya bibir dan klitorisku dengan jarinya, tentu saja aku makin risih, kuraih penisnya yang lunglai dan kuremas remas, tetap seperti tadi lemas tak berdaya.

Baru kusadari, mulailah penyiksaan seksual terhadapku, beliau menggumuli tubuhku dengan bibir dan lidahnya menjelajah seluruh tubuhku, aku makin jijik dengan perbuatannya, lebih dari satu jam beliau memperlakukanku seperti mainan, menjilat, mengulum, mencium, mengocok dengan jarinya, ingin rasanya kutampar mukanya ketika beliau berada di selangkanganku, aku hanya menggigit bibirku menahan amarah.

Aku tak tahu dan tak bisa memperkirakan bagaimana berakhirnya permainan ini, karena tentunya tidak ada klimaks-nya.
Ternyata penyiksaanku tak berakhir begitu saja, sepanjang malam dia menggerayangi tubuhku yang tetap telanjang, hanya saat dia tertidurlah penyiksaan itu berhenti tapi begitu terbangun kembali tangan dan lidahnya menggerayangi sekujur tubuhku, dan itu berlangsung hingga pagi hari, kurasakan vaginaku panas dan lecet karena gosokan jari tangannya yang kasar.

Inilah pengalaman terberat dan terburuk yang aku alami selama menjalani profesi ini, baik saat itu maupun perjalananku selanjutnya, begitu berat aku memendam perasaan muak terhadapnya. Ketika aku pamit meninggalkannya, dia memberiku beberapa lembar uang lima puluh ribu yang menurutku tidak ada artinya, sangat tidak sepadan dengan “pengorbanan dan service” yang kuberikan, dua kali kecewa olehnya, dalam hati aku bersumpah tak akan mau menemui dia lagi. Namun sungguh konyol ketika aku sudah menjadi freelancer, beberapa bulan kemudian, aku kembali terperangkap mendapatkan tamu beliau, bahkan 2 kali terperosok dalam kubangan yang sama.

SANG LAKSAMANA

Pengalaman serupa kembali terulang ketika aku menemani Pak Ari, orang penting di jajaran Angkatan Laut di Armada Timur yang berpusat di Surabaya, ARMATIM.

Diantar Om Lok dan seorang Chinese yang aku tak kenal, kami menyusuri jalanan Surabaya menuju Hotel Majapahit yang terletak ditengah kota. Seorang pejabat penguasa kota Jakarta adalah tujuan kami, sebenarnya bukan dia yang minta tapi Yongki, si Chinese, berhasil membujuk Om Lok untuk “mengumpankan” aku ke pejabat tersebut, siapa tahu setelah melihat penampilanku hatinya tergoda, katanya. Aku keberatan kalau nggak pasti seperti itu, tapi dengan persetujuan bahwa begitu aku keluar kamar, maka “argo carteran” sudah mulai jalan, akupun mengikutinya.
“Kalau dia nggak mau juga, berarti dia laki laki bodoh atau nggak normal, jangan khawatir, kalau dia nggak mau juga, aku yang akan booking”, tantang Yongki pada Lok.

Kami langsung menuju kamar suite beliau, ternyata banyak tamu disana dan juga 2 gadis seusiaku, melihat “sainganku” aku merasa bahwa mereka bukanlah kelasku apalagi sainganku, nggak level. Aku dan 2 gadis itu menunggu di ruang tidur, sepertinya mereka memberi kesempatan beliau untuk memilih gadis yang dia mau, baru kali ini aku diperlakukan menunggu untuk dipilih, agak malu juga diperlakukan seperti itu, biasanya tamu sudah ngantri untuk menikmatiku tapi kini aku harus ikutan antri, tapi toh aku akan dibayar penuh, baik dipilih maupun tidak, nggak ada ruginya.

Aku masih belum tahu siapakah beliau ini, karena banyak orang di ruang tamu, tak sempat aku mengamati siapa siapa yang hadir disitu terus masuk kamar tidur. Yongki cuma memberitahu bahwa tamunya adalah seorang penguasa Jakarta. Lima belas menit kami menunggu ketika Yongki menyuruh kedua gadis itu pulang, tinggallah aku sendiri di kamar itu.
Aku tak berani rebahan di ranjang atau mulai melepas pakaianku menunggu kedatangannya, meski aku yakin sudah terpilih, trauma atas perlakuan Pak Yono tempo hari masih kurasakan.

Tinggallah aku, Om Lok, Yongki, pejabat itu ditemani ajudannya, ternyata beliau adalah Pak Sur, memang dia penguasa yang “punya” Jakarta, aku sangat mengenalnya dari seringnya beliau muncul di TV.
“Ly kamu temani Pak Surya, kalau beliau minta nginap ya ikutin aja”, pesan Om Lok sebelum meninggalkanku berdua dengan beliau.

Kulihat wajah dingin beliau seolah tanpa ekspresi menyambutku, disuruhnya aku duduk di sebelahnya, aroma minyak angin begitu menyengat, sepertinya beliau lagi tidak enak badan.
“Kamu duduk aja di sini, aku nggak tahu apa maunya mereka, kamu disuruh tinggal ya tinggal aja disini”, katanya dingin tak ada senyum meski terdengar ramah, memang beliau dikenal tidak bisa tersenyum.
Aku tak tahu harus berbuat apa, nggak mungkin kalau beliau nggak tahu maksud dan tujuanku berada di kamar ini. Aku diam saja tak berani bertindak lebih jauh, secara halus sebenarnya ada isyarat penolakannya, entah kurang cocok denganku atau memang lagi nggak enak badan atau juga memang nggak suka perempuan, seperti isunya selama ini.

“Mau dipijitin Pak?”, aku memberanikan
“Nggak usah, sebentar lagi dipakai tidur juga hilang”.
Sebentar lagi dipakai tidur? apa berarti dia nggak mau sama aku?, pikirku, belum pernah kudengar penolakan dari laki laki seperti ini.
“Dipijitin sambil tiduran kan bisa cepat tidur Pak”, pancingku mulai mengarah.
“Ntar malah nggak bisa tidur, tambah pusing nanti”, beliau tetap menolak halus sambil menggosok minyak angin ke kepalanya.
“Sini aku bantuin Pak”.
“Gini aja udah enakan kok”.

Berbagai usaha yang mengarah sudah aku lakukan tapi tetap saja keluar penolakan darinya, aku menyerah, belum pernah kutemui laki laki yang membiarkanku sendirian seperti ini. Aku jadi serba salah, sepertinya dia tak mau ditemani tapi nggak mungkin kalau aku meninggalkannya begitu saja, satu satunya jalan keluar adalah dia menyuruhku pergi, tapi itu terlalu menyakitkan bagiku, ada perasaan terusir.

“Kalau Bapak nggak enak badan dan mau istirahat, aku pulang boleh?”, akhirnya menyerah.
“Gini lho mbak, bukannya aku nggak suka kamu, sebagai laki laki normal aku menyukai wanita apalagi secantik kamu, tapi itu bukan berarti aku harus tidur sama kamu kan? Kalaupun aku mau ingin rasanya ngobrol denganmu sampai pagi, tapi aku lagi nggak enak badan jadi kamu ngerti kan?”.

Beliau mengatakan banyak hal yang sudah tak kudengarkan lagi, aku hanya menunduk malu, melihat pintu keluar sudah terbuka lebar, cuma sekarang bagaimana meninggalkan beliau tanpa ada yang sakit hati, terutama aku.
“Kalau begitu Bapak istirahat saja, mungkin kalo aku disini Bapak terganggu istirahatnya, aku pulang saja gimana?”, tanyaku sambil menatap matanya yang tajam berwibawa, tak sanggup aku menatapnya lebih lama lagi.
“Kamu nggak usah tersinggung, aku memang nggak biasa melakukan ini”, tetap sopan meski tanpa senyum.

Akhirnya kutinggalkan beliau sendirian di kamar tanpa terjadi apa apa, dalam hati aku menghargai dan hormat pada sikap beliau, tak tega juga kalau memaksa merayu dia untuk bertindak lebih jauh. Kulihat Om Lok dan Yongki masih duduk di Lobby bersama si ajudan, segera kuhampiri mereka dan kuceritakan yang terjadi.

“Nah, aku menang”, teriak si ajudan dan kulihat Om Lok memberikan beberapa lembar 50 ribuan ke ajudan itu. Ternyata mereka taruhan, Om Lok dengan percaya diri bertaruh bahwa aku berhasil meruntuhkan Imannya, dia kalah. Pak Sur telah menyuruhku pulang, berarti aku harus menemani Yongki, bagiku nggak ada masalah toh dengan Yongki atau lainnya sama saja bagiku, tak ada yang istimewa.
“Berarti memang rejekimu”, kata Om Lok pada Yongki.

Tak kusangka ternyata Yongki masih punya “Plan B”, kembali aku disodorkan pada pejabat lainnya yang tak kalah tinggi pangkatnya, seorang laksamana di Angkatan Laut wilayah Timur, ARMATIM, namanya Pak Ari, entah ada acara apa banyak penggede negeri yang menginap di hotel ini.
“Kalau dia nggak mau juga, baru itu jatahku, tapi rasanya dia nggak akan menolak kok, aku pernah servis dia sih sebelumnya”, katanya.

Ternyata benar kata Yonki, singkat cerita akhirnya aku menemani Pak Ari yang berpangkat Laksamana itu (kalau nggak salah sih), orangnya tinggi besar agak botak tapi tertutup model rambutnya, meski dia seorang tentara tapi tutur katanya sopan dan lembut. Sebelum sempat aku berbuat apa apa, dia sudah membuatkan teh hangat dan menyodorkan ke arahku, biar segar, katanya. Aku yang biasa melayani agak canggung juga menerima “kebaikannya”.

Sebelum sempat melepas pakaianku, beliau sudah memijit kakiku, terasa enak dan nyaman pijatannya, beliau hanya memandangku meringis keenakan. Aku berusaha mencegahnya lebih lanjut tapi beliau menyuruhku diam dan menikmati pijitannya, sebenarnya aku menikmati pijitan itu, tapi bukan tugasnya, adalah tugasku untuk melayani beliau.

“Udah Pak, gantian Bapak yang aku pijitin”, desakku.
“Ah nggak usah, paling juga pijitanmu pijitan nakal”, tolaknya.
Pijitannya sudah mencapai betis dan sebentar lagi ke paha.
“Lepas dulu celananya”.
“Bapak juga lepas dong”.

Akhirnya kulepas piyamanya setelah aku melepas pakaianku, meninggalkan bikini pink yang semi transparan. Tubuhnya yang tegap tak menyisakan lemak di perutnya aku kagum dengan postur seperti itu, tapi tak kulihat sorot kekaguman di matanya melihatku semi telanjang, sepertinya beliau udah biasa mengamati tubuh seperti ini, justru beliau memintaku langsung tengkurap karena dia mau melanjutkan pijatannya, masih mengenakan celana dalamnya. Tak ada salahnya kuturuti, toh beliau yang mau, bukan kehendakku.

Pijatannya memang menghanyutkan, apalagi ketika tangannya sudah mencapai paha mendekati selangkanganku, mungkin vaginaku sudah basah hanya karena pijitan itu. Cukup lama ketika tangannya mencapai pantatku, beliau melepas celana dalamku, sesekali pijitan itu ke celah celah selangkangan dan nyerempet ke daerah vagina, makin basah aku dibuatnya. Bra dilepasnya ketika sampai di punggung, kali ini beliau langsung memijat ke arah depan, diremasnya buah dadaku yang masih tergencet tubuhku, dia menolak ketika aku berusaha berbalik, remasan remasan halus menegakkan bulu romaku, terasa geli geli terangsang mendapat remasan dari tangannya yang kekar dan berbulu.

Aku makin merinding saat kurasakan ciuman di tengkuk dan punggungku, sementara remasan di dadaku masih lembut. Ciumannya turun ke punggung lalu ke pantat, tangannya kembali menyelip di antara kakiku, menggosok bibir vaginaku dari sisi belakang, aku mulai mendesah sambil menaikkan pantatku secara reflek. Desahanku semakin keras saat kurasakan lidahnya menjilati pantat, kutekuk kakiku hingga aku nungging, semakin terbuka daerah kewanitaanku.
Tapi beliau tak melanjutkan jilatannya, beliau telentang disampingku, meski agak kecewa akupun bergeser di antara kakinya, kulepas celana dalamnya.

Sesaat aku terkaget heran, ternyata kejantanannya tak setegar penampilan postur tubuhnya, terlalu kecil dibandingkan dengan ukuran tubuhnya yang tegap dan gagah, agak kecewa aku melihat kenyataan itu, tapi tak mungkin kuungkapkan kekecewaanku. Kugenggam penis tegangnya, hanya seukuran genggaman tanganku, segera kucium dan kubelai penis itu, meski tidak besar tapi tugasku untuk membuatku terpuaskan dan syukur kalau aku juga bisa ikutan terpuaskan, tapi kali ini rasanya nggak mungkin.

Lidahku menyusuri penis yang sudah menegang tak lama kemudian meluncur keluar masuk mulutku, semua batang kejantanannya bisa kumasukkan ke rongga mulutku sampai hidungku menyentuh rambut kemaluannya, beliau memegang kepalaku dan membenamkan lebih dalam ke selangkangannya.

Tak lebih tiga menit aku mengulumnya, beliau menarikku ke atas dan merebahkanku ke ranjang, menciumi pipi dan bibirku, baru kusadari kalau kami tadi belum sempat berciuman. Lidahnya dengan lembut menyapu kedua putingku, dikulum dan dipermainkannya dengan lembut. Beliau menolak ketika tanganku hendak meremas penisnya kembali, tarian lidahnya yang lembut membuatku mulai melayang.

Aku mulai mendesah sambil meremas remas rambut Pak Ari yang berada di dadaku, baru kutahu kalau ternyata dia agak botak, tak terlihat dalam keadaan biasa. Beliau kembali mencium bibirku saat kejantanannya mulai kusapukan ke bibir vaginaku. Tanpa melepas ciuman kami dia menyodokkan penisnya masuk, kupeluk dan kucium beliau dengan penuh gairah, berharap aku juga ikut merasakan kenikmatan dari beliau yang gagah perkasa ini. Satu, dua, tiga kocokan pelan telah dilakukan, aku merasakan kehangatan dekapannya, pada kocokan ke lima kurasakan cairan hangat membasahi vaginaku mengiringi lenguhan panjang Pak Ari, lalu tubuhnya menegang kemudian melemas telungkup di atasku.

Dia sudah mencapai puncak kenikmatannya pada kocokan ke lima, hanya beberapa detik penis itu berada di vaginaku, kini sudah mengakhiri kenikmatan itu, tentu saja aku kecewa tapi sekali lagi kekecewaanku tak mungkin kutunjukkan pada tamuku. Napasnya masih menderu di telingaku, detak jantungnya seakan mau meledak di dadaku, begitu kencang. Kubiarkan tubuhnya masih telungkup menindih meski kurasakan agak sesak napasku terhimpit tubuhnya.

“Kamu belum ya”, bisiknya ditelingaku dengan nada seperti sesal.
Aku hanya tersenyum, dia memandangku, kulihat tatapan kekecewaan dari sorot matanya, hilang rasanya ke-angkeran dan ke-gagahan yang tampak sebelumnya.
“Istirahat dulu, mungkin Bapak terlalu buru buru, ntar aku bantu deh”, hiburku.
“Habis kamu nggemesin sih”, dia turun dari tubuhku, kami telentang bersebelahan.

Beberapa saat kami beristirahat dan bersantai, kembali aku dibuatkan teh hangat, bersantai kami nonton TV sambil sesekali beliau mengomentari acaranya. Tangannya mulai menggerayangi dada dan pahaku, aku diam saja tak bereaksi terhadapnya, kubiarkan pula saat tangannya mulai meremas, hanya desahku yang terdengar ketika mulutnya mengulum putingku. Kubiarkan kejantanannya menegang dengan sendirinya, aku takut kalau dia terlalu cepat selesai. Namun aku tak bisa hanya mendesah ketika bibirnya sudah beradu dengan bibir vaginaku, desahanku makin keras, kuremas rambut dan kuelus kepala botaknya.

Untuk kesekian kalinya seorang Jendral bertekuk lutut di antara kedua kakiku dengan kepala terjepit di selangkangan dan mulut terkunci di vagina. Jilatan lidahnya makin ganas, sesekali seakan dia menyedot semua isi tubuhku dari vagina, aku menjerit nikmat, apalagi jari tangannya mulai ikutan mengocokku. Beliau berdiri dan menyodorkan penis kecilnya yang keras menegang, kubelai dan kuciumi dengan manja, sebentar kukocok, sebentar kuremas, desahnya mulai terdengar penuh nafsu.

Tanpa diperintah aku nungging di depannya, di atas sofa, dengan posisi ini dia punya keleluasaan untuk mengatur permainan. Kurasakan kejantanannya mulai memasuki vaginaku, aku mendesah pelan, beliau membiarkan penisnya berdiam di dalam beberapa saat lamanya sambil mengusap punggung dan pantatku. Aku tak berani menggerakkan pantatku seperti biasanya, khawatir beliau selesai sebelum waktunya, pelan ditariknya penisnya dan pelan pula didorongkan kembali, lalu didiamkan lagi. Sebenarnya ini merupakan siksaat tersendiri bagiku, tapi demi kepuasan tamuku, tentu tak boleh egois.

Beberapa kali dia melakukan dengan pelan, tarik, dorong dan diam, diremasnya erat pantatku ketika kucoba mengimbanginya, kuurungkan gerakanku, hanya terdiam menanti kocokan pelannya. Lima kocokan sudah berlalu, aku masih tetap mematung dan mendesah menerimanya, tak ada kenikmatan sama sekali bagiku, tapi mungkin bagi beliau ada kenikmatan tersendiri, biarlah demi kepuasan Bapak Jendral yang terhormat.

Rupanya beliau cukup percaya diri ketika pada kocokan selanjutnya tak terjadi apa apa, kocokannya mulai cepat dan akupun mulai memberanikan diri untuk menggerakkan pantatku. Namun seperti sebelumnya, tak lebih semenit aku menggoyangkan pinggulku mengimbangi gerakannya, dia sudah teriak dalam orgasme, kurasakan penisnya berdenyut pelan di vaginaku. Kudiamkan saja sampai dia puas menumpahkan spermanya di vagina. Tak ada kenikmatan sama sekali yang bisa kudapatkan darinya, kecuali pijitannya.

Kutinggalkan beliau sendirian di sofa setelah membersihkan kejantanannya, ketika aku kembali dari kamar mandi Pak Ari sudah telentang di ranjang menanti kedatanganku, kurebahkan tubuhku dan kusandarkan kepalaku di dadanya yang bidang, terasa ada kedamaian dalam pelukan tubuh kekarnya, apalagi ketika beliau membelai ramputku sambil kami bercakap cakap, terasa romantis. Sebenarnya melihat postur tubuhnya yang terbilang sexy, aku sungguh berharap banyak mendapatkan kenikmatan darinya, tapi harapanku tinggallah harapan belaka.

Lebih dari setengah jam aku dalam pelukannya, beliau mengangkat daguku, dicium dan dilumatnya bibirku, dengan mesra kubalas kuluman bibirnya sambil mulai tanganku menggerayang ke selangkangannya. Kuremas dan kukocok kejantanannya, perlahan mulai menegang meski masih kecil dalam genggamanku, tak berani mengocok cepat, takut terlalu cepat berlalu. Kususuri leher dan dadanya, sesekali kukulum putingnya, ciuman dan lidahku bermain main di dada dan perutnya, kurasakan penisnya mulai mengeras.

Kembali kepalaku berada di selangkangannya, aku nungging di sampingnya sambil mencium dan menjilati kejantanannya, akhirnya penis itu meluncur keluar masuk mulutku tak lama kemudian. Pak Ari mendesah merasakan kulumanku, semakin kupercepat kocokan mulutku sambil mempermainkan lidahku di kepala penisnya, tangannya meremas remas buah dadaku penuh gairah. Aku ingin membuatnya benar benar siap sebelum kumasukkan penisnya ke vaginaku, namun kembali terpaksa menelan kekecewaan saat kudengar teriakannya.

Segera kukeluarkan penis dari mulutku tapi terlambat, penisnya berdenyut hanya beberapa saat setelah keluar dari mulutku, sedikit semprotan mengenai wajahku. Tanpa ragu kusapukan penis itu ke wajahku, beliau mengerang nikmat sambil meremas remas rambutku, kumasukkan kembali penisnya ke mulutku, dia mengerang kaget dan segera menarik kejantanannya dari mulut dan genggamanku.
“Ugh.. nakal ya”, katanya, aku hanya tersenyum sambil membersihkan wajahku dengan sprei.

Pukul 2 tengah malam kutinggalkan beliau yang masih terlelap, tentu saja seijinnya. Si ajudan hanya tersenyum ketika melihatku melintasi lobby. Aku yang masih terbakar birahi terpaksa harus memendamnya, entah sampai kapan, sampai kudapatkan kepuasan dari tamuku nantinya, karena aku sendiri tak tahu siapakah tamuku besok, apakah aku bisa mendapatkan kepuasan darinya, itulah pertanyaan yang selalu menggelayut di benakku. Sempat terlintas dalam benakku, apa istrinya bisa terpuaskan dengan kondisi Pak Ari yang seperti itu, mengingat aku sering melihatnya di TV betapa cantiknya istrinya meskipun sudah termakan usia, namun masih menampakkan sisa sisa kecantikannya.

Keesokan siang harinya, si ajudan nongol di depan pintu kamarku dengan di antar Om Lok, rupanya dia iri ketika aku melayani komandannya, sekarang dia ingin mendapatkan service yang telah kuberikan ke atasannya malam sebelumnya.
Tentu saja aku terkaget, tapi apa salahnya sejauh dia bisa membayarku toh tak ada bedanya. Ternyata dari dialah akhirnya kudapatkan kepuasan dan orgasme yang berulang ulang, meski pangkatnya masih kapten tapi permainannya bahkan melebihi si laksamana yang hanya mampu bertahan tak lebih dari semenit.

Itulah manis, pahit dan getirnya menjalani profesi ini, meski tak banyak frekuensinya tapi cukup menyiksa untuk dilakoni. Banyak kisah seperti ini yang aku jalani, bahkan tak jarang juga dari mereka yang masih muda, tentunya merupakan siksaan tersendiri bagiku, mungkin akan kutuangkan dalam kisah kisah tersendiri.

Lily Panther 6: Dan Bintang-bintang pun Berebutan

Posted in Karya Lily Panther on 6 Maret, 2008 by elilagi

Memenuhi banyaknya permintaan yang masuk, sungguh luar biasa tanggapan dari para pembaca, baik yang memberikan dukungan, yang memberi nasehat, yang mencibir, yang mengajak kencan, bahkan ada yang mengajak kawin, tapi hampir semua meminta kisah lainnya, semua itu tergantung dari sisi mana kita memandang apa yang telah kualami dalam perjalanan hidupku.

Melalui forum ini, aku minta maaf kalau tak bisa menjawab email yang masuk satu per satu karena kesibukanku, dan lagi waktu yang kugunakan untuk menjawab email lebih baik kugunakan untuk menulis cerita lainnya. Perlu kutekankan sekali lagi mengingat banyak pertanyaan yang masuk, bahwa kejadian yang kuceritakan adalan 90% benar adanya sedangkan sisanya adalah bumbu bumbu penyedap cerita supaya lebih nikmat dibaca (meskipun sebenarnya kisah sesungguhnya lebih nikmat dari pada yang ada di tulisan, lebih nikmat dan sekaligus lebih pahit, pokoknya rasanya rame, seperti permen nano nano).

Banyak cerita yang sudah aku tulis, tinggal finishing saja karena memang kerangka cerita sudah ada dalam buku harianku, tentu tinggal menuangkan dalam kata kata yang enak dibaca. Tentunya tak lepas dari dukungan para pembaca, kalau banyak yang masih menginginkan ya berlanjut, kalau engga ya biarlah menjadi bacaan pribadi yang dibaca di kala senggang, sekedar mengingat perjalanan hidup.

Selamat menikmati.

*****

SANG JENDERAL

Aku diberitahu Om Lok untuk segera bersiap karena seorang pejabat akan datang, seperti bisa kalau pejabat baik itu sipil maupun militer, bisaanya beliau datang saat jam istirahat, biasa Sex After Lunch or Sex During Lunch.
Saat itu aku tak tahu dari mana seorang Jendral atau pejabat punya duit berlebih untuk membayarku, tak terlintas dalam benakku kalau sebenarnya mereka tidak membayar dari kantungnya sendiri, tapi atas service dari orang lain, kolega, konco KKN, rekanan bisnis atau lainnya. Baru belakangan setelah aku freelance aku tahu semua permainan para pejabat dan pengusaha, terlalu busuk untuk diikuti memang, tapi toh sedikit banyak aku ikutan menikmati manisnya era Orde Baru.

Tepat pukul 12 siang muncullah sang pejabat, dia diantar Om Lok, seorang Chinese lainnya dan Pak Sam, mereka bertiga berada di kamarku, setelah menemani sebentar kemudian Om Lok dan Chinese satunya meninggalkan kamar.
Meskipun aku tidak dikenalkan siapa beliau, tapi aku langsung tahu karena sebagai pejabat militer di Jatim dia sering muncul di Koran atau TV. Aku tahu namanya Pak Im, beliau lebih memilih berkarir di Sipil, sekarang masih menjabat sebagai pejabat tinggi di Jatim.

“Oh, ini toh primadona si Lok”, begitu komentar Pak Im ketika melihatku yang waktu itu mengenakan gaun hijau berbelahan dada rendah sehingga tampak tonjolan bukit dadaku.
Aku menawari minuman pada mereka berdua, tentu mereka bisa menikmati tonjolan buah dadaku ketika aku membungkuk menyajikan minuman di meja.
Pak Im memintaku duduk di sampingnya setelah aku memberikan minuman, Pak Sam hanya memandangku dengan penuh arti.
“Jangan bilang Bapak kalau kita udah pernah, pura pura saja kita belum pernah kenal”, kata Pak Sam pelan ketika Pak Im sedang ke kamar mandi, padahal Pak Sam sudah lebih dari tiga kali menikmati manisnya tubuhku, sehingga aku cukup akrab mengenalnya.
“Sekali-kali komandan merasakan sisa anak buahnya” lanjut Pak Sam dengan senyum nakal, ada perasaan sakit hati ketika Pak Sam menyatakan “sisa”, sepertinya aku ini sesuatu yang habis dipakai lalu dibuang, tapi aku hanya tersenyum penuh pengertian.
Pak Sam segera pamit ketika Pak Im kembali duduk di sampingku.
“Pak, aku tinggal dulu, kalau ada perlu saya ada di lobby dengan si Lok, jangan lupa Pak, nanti kita ada rapat jam 2″, Pak Sam mengingatkan seraya pamit meninggalkan kamarku.

Kini aku berdua dengan Pak Im, seorang komandan militer di Jatim saat itu, agak kikuk aku berhadapan dengan seorang pejabat yang berwibawa, apalagi dengan kumisnya yang tebal terlihat lebih galak dan tegas.
Mengingat waktu beliau tidak banyak, aku harus segera menyesuaikan tanpa bertele tele.
“Sepertinya Bapak tidak banyak waktu ya”, kataku membuka percakapan
“He eh, memang timingnya nggak pas sih, tapi aku terpengaruh promosi dari Yongki dan si Lok itu, jadi kusempatkan saja, sekalian refreshing sebelum rapat nanti, biar segar dan tidak tegang saat rapat”.

Aku memberanikan diri duduk di pangkuannya hingga dadaku tepat di depan beliau. Pak Im mencium pipi lalu bibirku sambil tangannya mulai meraba raba di dadaku, kubalas dengan elusan dan remasan di selangkangannya yang kurasakan mulai menegang, ciuman beliau mulai turun ke leher dan bahu, kuremas lebih kuat kejantanannya yang mengeras. Tanpa melepaskan bibirnya dari tubuhku Pak Im menarik turun resliting bajuku, dengan sedikit gigitan beliau menurunkan gaun yang kukenakan hingga turun ke perutku, tampaklah buah dadaku yang menantang tertutup bra.

Sedetik beliau memandangi buah dadaku, ada sorot mata kagum sebelum kepalanya ditanamkan di antara kedua bukit itu, tangan beliau dengan cekatan membuka kaitan bra di punggungku dan kembali giginya menarik penutup tubuhku, untuk kedua kalinya beliau memandang buah dadaku dengan penuh kekaguman, tapi lagi lagi tanpa bicara kepalanya mengusap usap kedua buah dadaku sambil meremas remas dengan gemas.

Bibir Pak Im mulai menyentuh putingku, kurasakan kegelian karena kumis beliau yang tebal serasa menggelitik di dadaku, Pak Im langsung menyedot putingku seperti seorang bayi yang menetek, sambil menyedot lidahnya bermain main di putingku, sementara tangannya tak pernah lepas dari kedua bukit itu. Aku mendesis perlahan di dekat telinganya, bergantian beliau mengulum dari satu puting ke puting lainnya, kuremas rambutnya dan kutekan kepalanya ke dadaku. Begitu rakus beliau terhadap buah dadaku, entah mungkin gemas atau mungkin sudah nafsu.

Kubuka kancing baju premannya dan melepaskannya, lalu kaos dalamnya hingga kini beliau hanya mengenakan celana dinas, terkagum aku memandang postur tubuhnya, begitu padat berisi, meski sudah 50 tahun tapi tetap menjaga kondisi tubuhnya, salut aku dibuatnya, apalagi dengan sedikit bulu di dadanya, sexy rasanya. Mungkin aku sudah terlalu sering melayani orang seusia papa-ku hingga mempengaruhi selera bercintaku terhadap orang seusia mereka. Aku berlutut di depannya, kulepas sepatu dan kaos kakinya, Pak Im hanya tersenyum melihat perbuatanku. Aku mulai membuka ikat pinggang dan reslitingnya, kutarik turun hingga terlepas, hanya celana dalam yang menempel di tubuhnya.

Kusimpan rapi pakaiannya di lemari, lalu aku kembali berlutut di antara kakinya, kugosok gosok dan kuremas kejantanannya yang mulai menegang dari balik celana dalam, kuciumi dadanya yang bidang berbulu, terasa dadanya turun naik, napasnya mulai menderu, aku tahu beliau sedang menahan birahi. Tangannya sudah meraba raba dadaku kembali, kukulum putingnya, beliau mulai meremas remas, jilatanku beralih turun ke perut, kukeluarkan kejantanannya dari sarangnya, lumayan besar dan tegang, kubelai, kuremas, kuciumi dan kukocok dengan tanganku, sesekali kujilat kepala kejantanannya, cairan bening sudah meleleh dari ujungnya, kulirik Pak Im mendesis sambil memperhatikanku menjilati kejantanannya, kulepas celana dalamnya, beliau sudah telanjang. Lidahku terus menjelajahi daerah kejantanannya, dari ujung hingga pangkal bahkan kantong bola, desisan Pak Im makin keras kudengar meski masih sayup.

Setelah hampir dua minggu bekerja, kegiatanku diluar menemani tamu adalah menonton film porno dan tuntutan sebagian besar tamuku, aku mulai terbisaa menikmati oral sex, baik terhadap tamuku maupun mereka terhadap aku, bahkan kudengar aku dikenal “supel” (bahasa jawanya: suka peli alias suka penis) karena permainanku terhadap penis yang membikin sebagian tamuku mendesah desah nikmat, meski belum se-piawai bintang film porno yang sering aku tonton. Begitu juga dengan Pak Im, mendapat permainanku di penisnya, desah kenikmatan keluar dari mulutnya, kombinasi antara jilatan dan kocokan tangan membuatnya merem melek, tangannya meremas remas rambutku sambil menekan kepalaku ke penisnya.

Pak Im memintaku berdiri di atasnya, kuturuti kemauannya, aku berdiri di atas kursi menghadap tempat beliau duduk, kukangkangi beliau atas kemauannya hingga vaginaku tepat didepan wajahnya, kakiku diangkatnya ke sandaran kursi, dengan begitu kepala Pak Im berada di selangkanganku, lidah Pak Im langsung mendarat di bibir vaginaku, menari nari di klitoris dan vagina, aku mendesah menikmati jilatan beliau, tanpa kusadari pinggulku bergoyang mengikuti iramanya, kurasakan jilatannya semakin menghebat menyapu vaginaku, aku menggeliat seakan menjepit kepala Pak Im di selangkanganku, kutekan pantatku ke mukanya hingga kepalanya tertekan ke sandaran kursi, goyangan pantatku semakin tak terkontrol sehingga vaginaku menyapu seluruh wajah Pak Im, Pak Jendral seperti menikmati sapuan vaginaku di wajahnya, aku semakin kegelian ketika kurasakan kumisnya ikutan menyapu daerah kewanitaanku, kuremas rambut beliau dan makin kutekankan pantatku ke wajahnya, aku sudah tak peduli lagi bahwa yang kukangkangi ini adalah seorang Jendral bintang dua yang begitu berkuasa dan dihormati, yang kupedulikan hanya seorang laki laki yang sedang mengharapkan kenikmatan seks dariku.

“Ouh.. oh.. udah ..udah Pak, ntar..ntar.. a.. a.. aku keluar”, desahku.
Pak Im lalu menuntun dan merebahkanku di ranjang, tapi bukannya langsung memulai tapi kembali beliau berada di selangkanganku, kami saling menjilat dengan posisi 69, cukup lama dengan posisi itu hingga akhirnya Pak Im membalikkan tubuhku, beliau lalu menindih tubuhku, bibirnya kembali menyusuri leher dan dadaku, tercium aroma vagina ketika Pak Im melumat bibirku.

Kami masih saling melumat bibir ketika kusapukan penisnya di bibir vaginaku yang sudah basah, baik dari dalam maupun dari ludahnya, pelan pelan beliau mendorong masuk kejantanannya, makin lama makin dalam tertanam di liang kenikmatanku, tatapan matanya yang tajam tak pernah lepas dari expresi wajahku saat penisnya melesak hingga semua tertanam ke vaginaku, kulawan tatapan matanya dan terlihat expresi kenikmatan terpancar di wajahnya. Beliau mencium bibirku ketika mulai menarik dan mendorong kejantanannya di vaginaku, aku mendesis nikmat menerima kocokan ringannya, makin lama makin cepat keluar masuk, desahanku makin keras. Tubuh beliau menindih rapat tubuhku, berkali kali ciuman gemas mendarat di pipi dan bibirku, aku menggeliat ketika bibir dan lidah beliau menyusuri leher dan telingaku, kumis beliau terasa menggelitik daerah sensitive itu, sambil mempercepat kocokannya, antara geli dan nikmat bercampur menjadi satu.

Kujepitkan kakiku di pinggul beliau sambil memeluknya erat, kejantanannya makin dalam melesak di vaginaku.
“Aaahh.. aahh”, jeritku ketika beliau menyodokku keras, kuremas rambut beliau, sodokan demi sodokan makin melambungkanku tinggi ke awan kenikmatan. Entahlah aku begitu menikmati cumbuan dan kocokan beliau, kini kedua kakiku sudah berada di pundak beliau, pinggulku sedikit terangkat, membuat Pak Im makin bebas dan dalam melesakkan kejantanannya ke vaginaku, dan tentu saja makin nikmat kurasakan.

Hampir duapuluh menit beliau mengocokku tapi belum ada tanda tanda orgasme, aku salut dengan fisik beliau mengingat usianya yang sudah sekitar 50-an, beliau begitu pintar mengatur irama kocokannya, sepertinya saat mau mencapai orgasme ditahan dengan menghentikan gerakan kocokannya beberapa detik kemudian kembali mengocok dengan cepat.

Kami berganti posisi, beliau mengocokku dari belakang, posisi doggy, sambil mengocok tangannya mengelus punggungku, kedua buah dadaku menggantung dan bergoyang dengan bebasnya seirama dengan kocokan Pak Im. Tanpa membuang waktu beliau langsung meraih kedua buah dadaku dan meremasnya, remasan lembut yang makin liar seliar kocokannya.

“Aaahh..ya pak..trus pak..truuss”, desahku sekeras kocokannya yang makin menghebat.
Aku menggoyang pinggulku melawan gerakannya, dan effekknya sungguh hebat, vaginaku terasa teraduk aduk penis Pak Im, beliau makin dalam menancapkan penisnya, makin nikmat tentu saja. Goyanganku makin liar melawan kocokan Pak Im, dan tak lama kemudian tubuhku menegang, aku mencapai orgasme terlebih dahulu, vaginaku berdenyut kencang meremas remas kejantanan Pak Im, beliau tak menghentikan kocokannya justru lebih cepat. Aku menjerit keras dalam nikmat orgasme, sungguh nikmat dalam selingan kocokannya, tiba tiba kurasakan denyutan hebat dari penis Pak Im menghantam dinding vaginaku, seperti meriam yang menembakkan pelurunya secara beruntun, semprotan cairan sperma yang hangat menyirami vaginaku, kembali aku menjerit nikmat menerima denyutan demi denyutan, Pak Im meremas pantatku ketika menyemprotkan spermanya di vaginaku, kemudian tubuhnya melemas dan memelukku dari belakang, kami berdua jatuh telungkup dan Pak Im masih di atas punggungku, napas kami saling berpacu kencang, lalu kami berdua telentang dalam kelelahan yang indah.

Beberapa saat kami membisu, kubersihkan penis Pak Im dengan tissue yang ada di meja kemudian kutinggalkan beliau ke kamar mandi membersihkan diri dan vaginaku. Ketika aku kembali dengan berbalut handuk di tubuhku, ternyata Pak Im sudah berpakaian lengkap bersiap untuk pulang, jam sudah menunjukkan pukul satu lebih.

“Ly, aku pergi dulu, nanti setelah sekitar jam 5 kembali lagi, bersiaplah”.
“Siap pak”, jawabku manja sambil bergayut di lengannya
“Kamu nggemesin sih, cantik dan menggairahkan, terlalu sayang kalau cuma sekali, istirahat dulu dan jangan terima orang lagi sampai nanti, aku akan bicara sama si Lok”, jawabnya sambil mengangkat daguku dan mencium bibirku.

Tak lama kemudian Om Lok, Pak Sam dan Chinese yang tadi masuk kamar, entah kapan Pak Im memanggil mereka, aku masih hanya berbalut handuk ketika menemani mereka berempat. Tak lama kemudian mereka keluar kamar, diluar dugaanku Pak Sam memberiku secarik kertas di genggamanku, setelah mereka pergi kubuka kertas tersebut dan sungguh mengagetkan aku.

“Aku akan kembali nanti setelah mengantar Bapak ke kantor, bersiaplah”
Kuremas dan kusobek kertas itu, “Memangnya aku piala bergilir yang bisa dipindah tangankan”, pikirku, kutelepon Om Lok memprotes pengaturan ini, bukannya aku keberatan, tapi pengaturannya yang harus jelas. Setelah dijelaskan Om Lok dan negosiasi akhirnya dicapai kesepakatan sebagai harga satu paket, aku menerima meski dengan sedikit kecewa karena tidak semua sesuai dengan keinginanku.

Part 2

Aku mandi menyegarkan tubuh, karena masih jengkel, kukenakan pakaian tidur sutra yang transparan, tanpa pakaian dalam hingga terlihat postur tubuhku dari balik pakaian tidur itu. Pukul tiga Pak Sam datang, beliau begitu takjub ketika melihat penampilanku yang lain dengan biasanya.

“Wah seperti pulang ke rumah disambut wanita cantik, kamu memang bisa aja bikin orang gemes dan lebih merangsang”, komentarnya. Aku hanya tersenyum bangga melihat kekagumannya.
“Kita punya waktu sampai jam setengah lima sebelum aku menjemput Bapak kembali”, katanya langsung memelukku, memang antara Hotel Hilton dan markasnya tidaklah jauh, mungkin hanya limabelas menit.

Ciuman Pak Sam langsung mendarat di bibirku dan tangannya menjamah di kedua bukit dadaku, meremas remas gemas. Bibirnya berada di leherku ketika tanganku meraih kejantanannya, kami masih berdiri sambil saling meremas. Kukeluarkan penis tegangnya dari lubang reslitingnya dan kukocok kocok, aku lalu berlutut di depannya, kujilati kepala penisnya dan kumasukkan ke mulutku, kukulum kepala penisnya hingga ke batang penis, kucoba sebanyak mungkin memasukkan ke mulutku. Pak Sam memegang kepalaku dan mengocokkan penisnya di mulutku, batang penis itu dengan cepatnya keluar masuk mulutku.

Aku kemudian berdiri menghadap meja, tubuhku condong ke depan dengan tumpuan tanganku di meja, Pak Sam menyingkap baju suteraku, tanpa membuka pakaiannya lalu menyapukan penisnya di vaginaku, kubuka kakiku lebih lebar memberi jalan kejantanan beliau menembus liang vaginaku. Perlahan tapi pasti kejantanan Pak Sam melesak memasuki celah sempit vaginaku hingga semua tertanam di dalam. Beliau meremas buah dadaku dari belakang saat menarik penisnya dan kembali memasukkan dengan dorongan kuat, aku terdongak kaget, antara sakit dan enak bercampur dengan nikmat. Kocokannya makin cepat dan makin nikmat terasa, remasan pada buah dadaku makin kuat, aku mendesah nikmat, semakin cepat semakin nikmat.

Tanpa memperlambat kocokannya, tangannya meremas dan menjambak rambutku, aku hanya mendesah, kuangkat kaki kananku ke atas meja, penis Pak Sam makin dalam tertanam di vaginaku, ada perbedaan cara bercinta dan irama kocokan Pak Sam dengan Pak Im, tapi bagiku dua duanya sama sama enak menghanyutkan. Dengan keras Pak Sam menyodokku tiga kali lalu dengan kasar menarik keluar penisnya, aku menoleh protes, tapi beliau tersenyum dan membalikkan tubuhku, dinaikkan tubuhku di atas meja, kakiku dibuka lebar dan kembali beliau memasukkan penisnya, langsung mengocok dengan cepat. Kami bercinta berhadapan, dengan bebasnya Pak Sam mengocokku sambil menciumi sekujur tubuhku sejauh bisa dijangkau, tangannya tak pernah meninggalkan daerah di dadaku, mengelus dan meremas sesukanya.

Kami masih berpakaian, aku dengan baju tidur sutraku dan beliau masih dengan pakaian lengkap, tapi tak menurunkan gairah bercinta kami, kuterima sodokan demi sodokan dengan penuh kenikmatan. Pak Sam mengangkat dan menjepitkan kakiku di pingganggnya, beliau melesakkan penisnya dalam dalam sambil mencium bibirku, lalu beliau menarik tubuhku dan mendekapku erat.

Tanpa kuduga beliau mengangkat tubuhku dan menggendongku sambil tetap menanamkan penisnya di vaginaku, aku kagum dengan fisiknya yang bisa menggendongku, tubuhku diangkat turun naik di gendongannya memberikan efek kocokan di vagina. Aku memeluknya erat takut terjatuh, beliau membawaku ke arah ranjang, lalu kami terjatuh di ranjang, aku menindihnya, penisnya terlepas dari vaginaku, kami berdua tertawa riang, segera kumasukkan penisnya kembali dan dengan posisi duduk di atasnya kini aku yang gantian menggoyangnya.

Pak Sam kembali meremas buah dadaku ketika goyanganku makin cepat, aku tak berani menggoyang terlalu cepat karena resliting celananya mengganggu dan sakit apabila terkena di vagina. Tapi Pak Sam tak mau terlalu lama di bawah, dibaliknya tubuhku dan langsung menindihku, kuminta beliau melepas celananya karena reslitingnya mengganggu, dengan tersenyum diturutinya permintaanku, tapi beliau tak mau melepas semuanya, hanya melorotkan saja, entah apa alasannya. Kakiku dinaikkan di pundaknya dan dengan posisi push up beliau mengocokku, bukan main ternyata jauh lebih nikmat, disamping makin dalam penisnya tertanam, pada saat keluar masuk menggesek klitorisku, aku menjerit nikmat, beliau tersenyum melihat expresi kenikmatan di wajahku. Kuremas sendiri kedua buah dadaku sambil mempermainkan putingnya, Pak Sam mencegah ketika aku berusaha menurunkan baju sutraku, sesekali dilumatnya bibirku yang lagi tengadah mendesah.

Tubuh Pak Sam turun naik memompaku dari atas, sesekali pantatnya ditekankan pada vaginaku, penisnya makin dalam tertanam, aku makin mendesah desah nikmat. Dan tak lama kemudian kuraih orgasme, tubuhku tegang, otot vaginaku mencengkeram penis beliau yang masih keluar masuk vagina, kuremas lengannya sambil menjerit dalam kenikmatan. Pak Sam kemudian menindih dan mendekapku dalam pelukannya, tanpa memperlambat kocokannya bibirnya sudah menjelajahi leherku, kuelus kepala botaknya, kakiku menjepit pinggangnya, dan tak lama kemudian beliau menyusulku mencapai puncak kenikmatan. Kurasakan cairan hangat membasahi liang vaginaku, penisnya serasa membesar dan berdenyut keras, memenuhi rongga rongga vaginaku, menghantam dinding dinding sempit yang menjepitnya, kembali aku menjerit menerima semprotan spermanya. Tubuh Pak Sam terkulai lemas di atas tubuhku, napasnya turun naik, kudengar dengusan dari hidungnya dekat telingaku, kubiarkan sesaat beliau menindihku sebelum kudorong halus turun dan terlentang di sampingku.

Kurasakan sperma Pak Sam menetes keluar dari vaginaku, segera aku ke kamar mandi membersihkannya, tak lebih sepuluh menit aku di kamar mandi ketika kembali ternyata Pak Sam sudah tidur mendengkur dengan kejantanan yang sudah lemas lunglai, kupandangi wajah beliau, tampak garis tegas matang yang sudah mulai menua, kepalanya yang botak tanpa kumis sungguh jauh dari kesan tampan, sama sekali tidak menarik. Kalau kupikir lebih jauh, inilah orang yang sudah beberapa kali menikmati tubuhku, menyetubuhiku, dan juga sedikit banyak memberi kenikmatan padaku.

Lamunanku buyar ketika kudengar bunyi hand phone dari celana Pak Sam, segera beliau terbangun dan menerima telephone itu, ternyata dari Pak Im, dengan agak gugup beliau menjawab Pak Im. Kutinggalkan Pak Sam yang lagi bicara dengan atasannya, aku mandi bersiap menerima kedatangan Pak Im sebentar lagi. Ketika kubuka pintu kamar mandi, Pak Sam sudah berdiri di depan pintu masih dalam keadaan telanjang, sambil tersenyum beliau langsung menarikku ke pelukannya, ditariknya handuk yang memlilit tubuhku hingga terlepas, kami berdua telanjang berpelukan dan berciuman. Kembali tangan dan bibirnya menjelajahi sekujur tubuhku yang baru mandi, Pak Sam lalu berlutut di depanku, diangkatnya kakiku di pundaknya dan lidahnya langsung menjelajah di vaginaku, dengan rakusnya beliau menjilat dan menghisap sisa sisa cairan yang masih tersisa di vaginaku.

Aku mendesis menerima permainan lidahnya, tak lama ketika beliau kembali berdiri menghadapku, didorongnya tubuhku hingga bersandar ke dinding cermin, kakiku diangkat dan disanggah lengannya, kuusapkan kejantanannya ke bibir vaginaku, kubasahi dengan ludah di kepala penisnya untuk memberi pelumas dan memudahkan kejantanannya memasuki vaginaku, perlahan beliau mendorong masuk hingga semua tertanam ke dalam, langsung mengocoknya, karena tinggi badan kami sama, tak ada kesulitan bagi beliau untuk mengocokku dari depan sambil berdiri. Tubuh kami saling menempel, hanya pantat Pak Sam yang bergerak mendekat dan menjauhi tubuhku, sementara bibirnya sudah menjelajah di leher dan wajahku sambil sesekali bibir kami menyatu dalam birahi. Kemudian beliau membalikkan tubuhku, kembali Pak Sam menyetubuiku dari belakang, beliau mendekapku sambil mengocok, tangannya meremas remas kedua buah dadaku dari belakang dan tubuh kami masih menyatu dalam percintaan.

Aku mendesis menerima kocokan dan jilatan Pak Sam dari belakang, kudorong pantatku kebelakang supaya penis beliau bisa masuk lebih dalam, kuluman di telingaku membuatku makin menggelinjang geli dan nikmat, ditambah lagi remasan dan permainan di putingku, kulihat bayangan kami di cermin, sungguh menambah erotik permainan ini, tanpa kusadari karena terhanyut dalam permainan Pak Sam, tiba tiba kurasakan badanku menegang dan otot otot vaginaku berdenyut, aku menjerit nikmat mengalami orgasme, dan jeritanku lebih keras lagi ketika Pak Sam tanpa henti mengocokku justru lebih cepat hingga beberapa menit kemudian menyusulku ke puncak kenikmatan, denyutan penisnya tidak sekuat sebelumnya tapi tetap membuatku menjerit nikmat.

Pak Sam meremas remas buah dadaku, pantatnya digoyang goyangkan seakan menggodaku, kutoleh ke belakang, senyuman puas mengembang di wajah beliau, kutarik dan kubalikkan tubuhku, kami kembali berhadapan, beliau langsung memelukku dan mencium kedua pipiku, berakhir di bibirku.
“Kamu memang benar benar luar bisaa dan menggairahkan”, katanya sambil melepas pelukanku. Pak Sam langsung mengenakan kembali pakaiannya tanpa mencuci terlebih dahulu.
“Pak Im sebentar lagi datang, mandi sana lagi biar segar dan Pak Im tidak curiga”, katanya sambil meninggalkanku sendirian di kamar masih dalam keadaan telanjang.

****

Part 3

Kurebahkan tubuhku di ranjang, istirahat sejenak sebelum kedatangan Pak Im, badanku terasa letih yang hebat, mungkin terlalu banyak orgasme, lututku terasa ngilu dan lemas.
“Ntar aja mandinya, toh Pak Im masih empat puluh lima menit lagi” pikirku.
Tapi diluar dugaanku, tak lebih limabelas menit setelah Pak Sam pergi, ternyata Pak Im datang, beliau sudah di depan pintu, sendirian tanpa ditemani siapapun, entah bagaimana beliau menyelinap di hotel ini tanpa diketahui banyak orang karena wajah beliau pasti sudah banyak dikenal di Surabaya ini.

Agak gugup aku melihat kedatangannya, tak kusangka begitu cepat beliau datang, entah apa mereka sempat ketemu atau tidak, semoga tidak supaya aku tidak perlu repot menutupi kejadian ini, aku belum sempat mandi sehabis bercinta dengan Pak Sam tadi. Tak mau membuat Pak Im menunggu lebih lama, segera kusambar baju tidur sutraku yang tergeletak di lantai, tanpa mengenakan pakaian dalam lagi dengan agak takut kubukakan pintu menyambut Pak Im.

Melihat penampilanku yang super sexy dengan pakaian seperti itu, Pak Im langsung memelukku dari belakang begitu kututup pintu kamar, tangannya sudah berada di kedua buah dadaku, mengelus dan meremasnya, bibirnya menjelajah di leherku yang jenjang seterlah menyibakkan rambutku, aku menggeliat.

“Kamu memang benar benar penggoda dan menggairahkan”, bisiknya.
Terus terang aku khawatir kalau Pak Im langsung mau menjilati vaginaku karena sperma Pak Sam masih banyak di dalam dan belum sempat kubersihkan. Sebelum keduluan Pak Im, aku langsung jongkok di depannya, kubuka ritsluiting celananya dan kukeluarkan kejantanannya yang masih sedikit menegang, tanpa membuang waktu lebih lama, kejantanan itu langsung masuk mulutku dan segera keluar masuk, batang penis di mulutku makin lama makin tegang membesar seiring dengan desisan dari beliau.

Dipegangnya kepalaku dan beliau mulai mengocokkan penisnya di mulutku, sambil tetap mengulum kubuka ikat pinggang dan kutarik celananya turun. Setelah kurasa kejantanannya sudah siap, aku berdiri dan kutuntun Pak Im dengan menarik penisnya mengikutiku, beliau hanya nurut saja ketika kutuntun mendekati meja, tangan kananku menyapukan penis ke vaginaku sementara tangan kiri menarik bajunya supaya mendekatiku dan kucium bibirnya supaya beliau tidak perlu melihat ke bawah, aku takut sisa sperma Pak Sam terlihat oleh beliau.

Dengan mudahnya kejantanan Pak Im melesak masuk ke vaginaku yang masih basah, entah beliau tahu apa tidak kalau vaginaku habis dipakai, agak khawatir aku kalau kalau Pak Im tahu, aku hanya berharap beliau berfikir bahwa vaginaku masih basah sisa dari permainannya tadi siang. Kucumbu dan kukulum bibir Pak Im dengan penuh gairah, tanganku memeluk kepala dan meremas rambutnya untuk memberikan sensasi pengalih perhatian supaya tidak terlalu terkonsentrasi di vaginaku. Aku berusaha agar Pak Im segera orgasme sehingga tertutuplah “jejak” Pak Sam di vaginaku, untuk itu aku harus extra aktif dengan segala upaya erotis yang aku mampu.

Diperlakukan dengan penuh gairah, nafsu beliau langsung naik tinggi, ketika kubuka baju sutraku beliau mencegahnya, kubuka pakaiannya sambil tetap kami bercinta. Beliau tersenyum memandangku, lalu meremas buah dadaku, aku mendesis nikmat, diciuminya pipi dan bibirku dengan gemas, kocokannya makin cepat dan keras kurasakan. Sesekali tubuhnya dihentakkan ke tubuhku membuat kejantanannya makin dalam tertanam.

“Uh..aahh..aaugghh.. yess”, desahku setiap kali tubuhnya menghentakku, kupandang matanya dengan sorot mata penuh kenikmatan, beliau hanya tersenyum di balik kumis tebalnya.
Aku telentang di atas meja, kakiku kunaikkan di pundaknya, dengan berpegang pada kedua buah dadaku beliau meremas dan mengocokku makin keras, tubuhku menggeliat ke-enak-kan, makin mendesah makin cepat kejantanannya keluar masuk vaginaku.
“Ooohh..oohh..aahh” teriaknya seiring dengan semburan sperma di vaginaku, tangannya mencengkeram keras buah dadaku, cairan hangat kembali terasa membasahi celah celah vaginaku, tubuhnya menegang, entah sudah keberapa kali beliau orgasme denganku hari ini.

Aku sepertinya sudah lama kenal dengan beliau, maka tanpa segan dengan kakiku kudorong dadanya menjauh hingga terlepaslah penisnya dari tubuhku, beliau hanya tersenyum melihat kenakalanku, lalu menarikku berdiri dan memeluknya.
“Kamu memang benar benar menggairahkan dan penuh kejutan variasi”, katanya sambil memelukku.
“Bapak juga hebat, membuatku kewalahan, sini aku bersihkan”, kembali kutuntun Pak Im dengan memegang penisnya yang sudah lemas menuju kamar mandi.

Setelah membersihkan, kami rebahan di ranjang dalam keadaan telanjang. Singkat cerita kami akhirnya kembali bercinta dua kali lagi di ranjang, sungguh aku salut dengan stamina beliau. Sebelum tengah malam beliau meninggalkan kamarku dengan meninggalkan amplop di meja. Aku kembali tercenung dalam kesendirian malam sebelum tidur, dalam satu hari aku sudah bercinta dengan dua orang jendral yang begitu dihormati, ada rasa bangga terselip dan meninggikan rasa percaya diri.

Sekarang saat tulisah ini dibuat di awal 2003, kedua jendral tadi masih menjabat di negara ini, aku hanya tersenyum sendiri kalau melihat mereka muncul di TV, mengenang bagaimana mereka memperlakukan atau kuperlakukan di atas ranjang, bagaimana desah mereka saat orgasme, atau bagaimana ekspresi kenikmatan terpancar di wajah mereka ketika bercinta, sungguh jauh dari kesan mereka saat di lapangan ataupun TV, terlihat begitu tegas dan berwibawa. Lain ladang, lain pula tingkah laku belalang, lain di ranjang lain pula di lapangan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.